Site icon Ujung Jari

Gaya Egaliter Suwardi Haseng: Warkop Jadi Ruang Curhat dan Aspirasi Warga

SOPPENG, UJUNGJARI.COM – Bagi Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng, SE, warung kopi (warkop) bukan sekadar tempat menyeruput kopi. Warkop justru menjadi ruang publik untuk membangun komunikasi langsung dan setara dengan masyarakat.

Di sela waktu senggang maupun sepulang kantor, orang nomor satu di Kabupaten Soppeng itu kerap terlihat duduk bersama warga di sejumlah warkop.

Tidak ada protokol khusus, tidak ada kursi istimewa. Semua duduk di tempat yang sama dan berbincang dalam suasana santai.

“Bagi saya, warkop adalah sarana menciptakan hal yang setara. Di sini tidak ada sekat antara pemimpin dan rakyat. Kita bisa berdiskusi dengan bahasa sehari-hari, cair dan apa adanya,” ujar Suwardi Haseng.

Gaya tersebut sejalan dengan tagline kepemimpinannya, “Soppeng yang Setara.” Menurutnya, ruang formal pemerintahan terkadang menciptakan jarak antara pejabat dan masyarakat.

Sebaliknya, suasana warkop yang santai membuat komunikasi menjadi lebih cair dan aspirasi warga lebih mudah disampaikan.

Salah satu momen itu terlihat di Warkop Camidu, Jumat (4/9/2026), sepulang dari kantor. Warkop yang cukup dikenal warga Soppeng tersebut menjadi tempat Suwardi berbincang langsung dengan masyarakat.

Beragam topik mengemuka dalam perbincangan. Mulai dari persoalan lingkungan, pelayanan publik, hingga berbagai keluhan ringan yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Komunikasi sederhana tanpa kesan elitis itu menjadi bagian dari pendekatan yang dibangun Suwardi. Ia ingin memangkas jarak birokrasi sehingga pemerintah tidak hanya menerima informasi melalui laporan berjenjang, tetapi juga mengetahui secara langsung kondisi yang dirasakan masyarakat di lapangan.

“Pemimpin harus turun. Kalau hanya menunggu laporan di kantor, kita tidak akan tahu persoalan yang sebenarnya. Di warkop, saya bisa melihat dan merasakan langsung,” katanya.

Bagi Suwardi, warkop memiliki posisi penting sebagai ruang interaksi masyarakat. Di tempat seperti itu, berbagai kalangan bisa bertemu, berdiskusi dan bertukar gagasan tanpa melihat latar belakang maupun jabatan.

Karena itu, keberadaan warkop dimanfaatkan sebagai salah satu ruang informal untuk menyerap aspirasi masyarakat. Percakapan yang terlihat sederhana diharapkan dapat menjadi bahan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan.

Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan gaya kepemimpinan Suwardi Haseng yang berusaha menempatkan pemimpin dan masyarakat dalam posisi yang lebih dekat.

Dari sebuah meja warkop dan secangkir kopi, komunikasi antara pemerintah dan rakyat dibangun tanpa sekat. Harapannya, kedekatan itu melahirkan kepercayaan sekaligus kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat Soppeng. (Daus)

Exit mobile version