Site icon Ujung Jari

Jejak Panjang Supriansa: Anak Petani, Aktivis 1998, Wakil Bupati, hingga Ketua Harian Golkar Sulsel

SOPPENG, UJUNGJARI.COM – Perjalanan politik Supriansa menjadi salah satu kisah menarik dari Sulawesi Selatan. Berangkat dari keluarga petani di Desa Leworeng, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng, ia kini dipercaya mengemban posisi strategis sebagai Ketua Harian DPD Partai Golkar Sulsel, mendampingi Ilham Arief Sirajuddin sebagai Ketua DPD.

Jabatan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan panjang Supriansa, yang ditempa sejak kecil di lingkungan pedesaan hingga akhirnya menapaki panggung politik nasional.

Supriansa lahir di Desa Leworeng pada 31 Desember 1972. Ia tumbuh sebagai anak petani. Masa kecilnya tidak jauh dari sawah dan kehidupan kampung. Sepulang sekolah, ia membantu orang tua sekaligus menggembalakan sapi.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD 45 Toddang Saloe dan tamat pada 1985. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMAN 2 Watansoppeng dan menyelesaikannya pada 1991.

Merantau ke Makassar, Menempa Diri sebagai Aktivis

Pada 1993, Supriansa meninggalkan Soppeng menuju Makassar untuk menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Di kampus, jiwa kepemimpinannya mulai terlihat. Ia aktif dalam Senat Mahasiswa Fakultas Hukum UMI dan dipercaya menjadi Ketua Senat.

Supriansa juga bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar. Dari lingkungan aktivis tersebut, sikap kritis dan keberpihakannya terhadap persoalan masyarakat semakin terbentuk.

Momentum besar datang pada 1998.
Ketika gelombang reformasi mengguncang Indonesia, Supriansa bersama rekan-rekan mahasiswa turun ke jalan menyuarakan perubahan. Ia juga aktif mengadvokasi berbagai persoalan kerakyatan, termasuk isu perlindungan petani dan masyarakat kecil.

Mendirikan Lembaga Bantuan Hukum

Setelah menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar Sarjana Hukum, Supriansa tidak meninggalkan dunia advokasi.
Bersama sejumlah rekannya, ia mendirikan Makassar Intellectual Law (MIL).

Lembaga tersebut bergerak dalam pendampingan hukum, terutama bagi pedagang kaki lima, petani, warga desa, dan masyarakat kecil yang menghadapi persoalan hukum.

Pengalaman sebagai aktivis sekaligus pengacara kemudian menjadi modal penting ketika Supriansa mulai memasuki dunia politik.

Dari Demokrat hingga Wakil Bupati Soppeng

Langkah politik Supriansa awalnya dimulai melalui Partai Demokrat. Ia pernah mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR RI, namun belum berhasil merebut kursi di Senayan.

Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti. Supriansa kemudian berprofesi sebagai pengacara di Jakarta sembari terus membangun jaringan politik dan sosial.

Titik balik terjadi pada 2015.
Supriansa diminta mendampingi H.A. Kaswadi Razak dalam kontestasi Pilkada Soppeng sebagai calon wakil bupati.

Pasangan tersebut berhasil memenangkan Pilkada. Supriansa kemudian menjabat sebagai Wakil Bupati Soppeng selama sekitar tiga tahun.

Salah satu aktivitas yang membuat namanya semakin dekat dengan masyarakat adalah program “Subuh Berjamaah”.

Hampir setiap pagi, Supriansa menyambangi masjid-masjid di berbagai kampung. Ia bertemu warga secara langsung, mendengarkan aspirasi dan persoalan masyarakat dari dekat.

Mundur dari Wakil Bupati, Pilih Bertarung ke Senayan

Keputusan berani diambil Supriansa pada 2018. Saat masih menjabat Wakil Bupati Soppeng dan masa jabatannya masih tersisa sekitar dua tahun, ia memilih mengundurkan diri untuk maju sebagai calon anggota DPR RI melalui Partai Golkar.

Keputusan itu diumumkan di hadapan ribuan warga di Lapangan Gasis Watansoppeng.

Momen pelepasan atribut jabatan tersebut berlangsung emosional. Tangis dan doa warga mengiringi langkah Supriansa meninggalkan kursi wakil bupati untuk mengejar kursi parlemen.

Pilihan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada Pemilu 2019, Supriansa terpilih sebagai anggota DPR RI dari Dapil Sulawesi Selatan II dengan perolehan 54.659 suara.

Di Senayan, ia ditempatkan di Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, hak asasi manusia, keamanan dan sejumlah urusan penegakan hukum.

Di internal Partai Golkar, Supriansa juga dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk sebagai Ketua Badan Advokasi Hukum dan HAM DPP Partai Golkar serta Hakim Majelis Partai Golkar.

Membawa Aspirasi Soppeng ke Senayan

Selama menjadi anggota DPR RI, Supriansa terlibat dalam pembahasan sejumlah rancangan undang-undang.

Di daerah pemilihannya, khususnya Soppeng, salah satu hal yang kerap dikaitkan dengan perjuangannya adalah hadirnya gedung baru Polres Soppeng.

Pembangunan gedung tersebut menjadi salah satu proyek yang dikenang masyarakat sebagai bagian dari perjuangannya membawa kepentingan daerah ke tingkat pusat.

Kini Menjadi Ketua Harian Golkar Sulsel
Perjalanan panjang itu kini memasuki fase baru.

Pada 2026, Supriansa dipercaya sebagai Ketua Harian DPD Partai Golkar Sulsel, mendampingi Ilham Arief Sirajuddin sebagai Ketua DPD.

Duet tersebut diharapkan mampu memperkuat konsolidasi internal partai sekaligus menggerakkan mesin politik Golkar di Sulawesi Selatan menghadapi berbagai agenda politik dan pesta demokrasi mendatang.

Posisi baru itu sekaligus mempertegas perjalanan Supriansa dari politik tingkat daerah menuju panggung politik provinsi dan nasional.

Dari seorang anak petani di Leworeng yang tumbuh di antara sawah dan kehidupan sederhana, Supriansa kini berada di salah satu posisi penting dalam struktur politik Golkar Sulsel.

Perjalanannya menjadi gambaran bahwa panggung politik tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan.

Kadang, ia bermula dari sebuah desa, dari sawah, dari kehidupan sederhana, lalu ditempa oleh dunia aktivisme, advokasi, pemerintahan hingga akhirnya berlabuh di parlemen dan struktur elite partai.

Dari Leworeng ke Senayan, dari anak petani menjadi Ketua Harian Golkar Sulsel. Perjalanan Supriansa belum selesai. (Firdaus)

Exit mobile version