Site icon Ujung Jari

Funderland Hadir di Malili; Aroma Dimsum dan Pekik Dinosaurus

MALILI,UJUNGJARI.COM — Akhir pekan di Malili biasanya berhembus tenang. Namun sejak Sabtu malam (5/9/2026), suasana berubah riuh. Asap tipis beraroma guriih membumbung dari kukusan dimsum, beradu dengan gelak tawa anak-anak yang terperangah menatap replika dinosaurus seukuran aslinya.

Dua titik utama di Kecamatan Malili—Terminal Malili dan Lapangan Puncak Indah—seketika bertransformasi. Area terminal yang semula kaku dan lekat dengan deru mesin kendaraan kini berubah menjadi ruang publik yang hidup lewat hadirnya Funderland Indonesia. Sementara di Lapangan Puncak Indah (Lorong 4 Trans), gemerlap lampu pasar malam merangkul warga dalam rekreasi rakyat yang meriah.

Di dalam area Funderland, anak-anak tak sekadar berlarian. Mereka belajar keberanian. Salah satunya Raisa, murid kelas 4 SD yang tampak semringah usai memberanikan diri berfoto di samping replika reptil raksasa dan mengelus burung hantu.

“Bagi kami, ini bukan cuma tempat main anak, tapi ada nilai edukasinya. Anak-anak bisa kenal dan interaksi langsung dengan hewan yang jarang mereka lihat seperti ular dan burung hantu secara aman (safe) dan ramah,” ujar Adi, warga Dusun Karebbe, Desa Laskap, yang sengaja memboyong istri dan ketiga anaknya untuk menghabiskan momen akhir pekan.

Roda Ekonomi yang Kembali Berputar

Di balik keriuhan tawa anak-anak, ada helas napas lega dari para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Gemerlap wahana hiburan ini menjadi oase penyejuk bagi omzet harian mereka.

Gita (38), seorang pedagang kuliner di area Funderland, tak berhenti melayani pembeli yang datang bergantian. Dalam dua hari pertama saja, transaksi di lapaknya melonjak tajam dibanding hari-hari biasa.

“Wahana ini sangat membantu pelaku usaha kecil. Ramainya pengunjung membuat penjualan meningkat. Kami berharap kondisi ini konsisten membantu perekonomian pedagang selama satu bulan ke depan,” kata Gita penuh harap.

Cerita manis senada datang dari Aliya (25). Lapak dimsum miliknya di Pasar Malam Puncak Indah selalu ludes terjual sejak malam pertama dibuka.

“Respons masyarakat sangat tinggi. Dalam dua malam terakhir dagangan kami selalu habis. Kegiatan pasar malam seperti ini sangat membantu usaha kecil seperti kami untuk mendapatkan pasar yang lebih luas,” tutur Aliya. Pasar malam ini sendiri dijadwalkan akan terus memanjakan warga hingga 26 September mendatang.

Sinergi Hiburan dan Pemberdayaan Warga

Fenomena mendadak ramainya Malili ini bukan tanpa alasan. Pemerintah Daerah Luwu Timur memang sengaja mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas umum untuk menggeliatkan kembali pusat perkotaan sekaligus menopang ekonomi kerakyatan.

Camat Malili, H. Hasimning, menegaskan bahwa kehadiran sarana rekreasi ini dirancang untuk memberikan dampak ganda: hiburan yang edukatif untuk keluarga, sekaligus panggung ekonomi bagi UMKM lokal.

“Kehadiran sarana hiburan dan rekreasi ini memberikan ruang rekreasi yang positif dan edukatif bagi warga. Namun yang tak kalah penting, Pemda Luwu Timur berkomitmen memanfaatkan potensi keramaian ini untuk membuka ruang ekonomi bagi pelaku UMKM lokal agar dapat berkembang dan meningkatkan pendapatannya,” tegas Hasimning.

Malam kian larut di Malili, namun gelak tawa dan lalu lalang pengunjung belum menunjukkan tanda-tanda surut. Lewat penataan ruang publik yang adaptif, Luwu Timur membuktikan bahwa sarana hiburan keluarga dan penguatan ekosistem UMKM dapat berjalan seiring—menghidupkan kota, melapangkan rezeki warga. (rudi)

Exit mobile version