MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Universitas Patria Artha (UPA) terus membuka pintu bagi anak-anak Kalimantan Utara (Kaltara), terutama mereka yang berasal dari kawasan perbatasan, untuk mendapatkan pendidikan tinggi di Makassar.
Memasuki tahun kelima pelaksanaan program, UPA telah memberikan kesempatan kepada ratusan anak Kaltara untuk menempuh pendidikan tanpa dibebani biaya kuliah.
Namun, di balik kuliah gratis tersebut, persoalan biaya hidup masih menjadi tantangan. Mahasiswa harus menanggung sendiri ongkos perjalanan menuju Makassar, biaya tempat tinggal hingga kebutuhan sehari-hari.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Rektor UPA, Bastian Lubis.
Saat bertemu sejumlah orang tua calon mahasiswa baru asal Kaltara di ruang kerjanya, Sabtu (12/9/2026), Bastian mengungkapkan keprihatinannya terhadap minimnya dukungan pemerintah daerah untuk mahasiswa Kaltara yang menempuh pendidikan di Makassar.
Menurut Bastian, UPA telah berkomitmen menanggung seluruh kebutuhan pendidikan mahasiswa penerima program. Biaya pendaftaran, uang pembangunan gedung hingga SPP setiap semester diberikan secara gratis.
“Yang Patria Artha tanggung adalah biaya pendidikannya. Biaya pendaftaran gratis, uang pembangunan gedung tidak ada, dan SPP setiap semester kami tanggung semua,” ujar Bastian.
Sementara biaya untuk datang ke Makassar, tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari masih menjadi tanggung jawab mahasiswa bersama keluarganya.
Bastian menilai kondisi tersebut cukup berat, mengingat sebagian besar mahasiswa penerima beasiswa berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas.
Akibat keterbatasan biaya hidup, sekitar 100 mahasiswa Kaltara disebut terpaksa tidak melanjutkan kuliahnya.
“Kasihan mereka. Mereka datang jauh-jauh untuk kuliah, tetapi tidak punya biaya hidup di sini,” katanya.
Bastian pun membandingkan dukungan yang diterima mahasiswa dari sejumlah daerah lain. Menurut dia, beberapa pemerintah daerah tidak hanya membiayai pendidikan, tetapi juga memberikan dukungan biaya hidup.
Mahasiswa asal Papua, misalnya, mendapat pembiayaan pendidikan dan tempat tinggal dari pemerintah daerah. Sementara mahasiswa dari Pangkep, Selayar dan Sinjai mendapatkan bantuan biaya hidup sekitar Rp3,5 juta setiap semester.
“Di Kaltara tidak ada sama sekali,” tegasnya.
Karena itu, UPA berupaya mencari jalan keluar agar mahasiswa Kaltara tetap bisa bertahan menyelesaikan pendidikan. Salah satu skema yang disiapkan adalah memberikan kesempatan magang sehingga mahasiswa dapat memperoleh penghasilan sekaligus pengalaman kerja.
“Kita berusaha bagaimana anak-anak ini bisa magang untuk dapat uang. Jadi mereka bisa kerja sambil kuliah,” tutur Bastian.
Bidik 3.000 Anak Kaltara
Bastian menegaskan, program beasiswa UPA tidak sekadar ditujukan untuk mahasiswa dari perkotaan. Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak di kawasan terpencil dan perbatasan.
Ia menyinggung Desa Tepian di Kabupaten Nunukan sebagai salah satu wilayah yang akses pendidikannya masih terbatas. Bahkan, menurutnya, ada masyarakat di wilayah tersebut yang selama puluhan tahun belum pernah tersentuh informasi maupun kesempatan beasiswa.
“Anak-anak perbatasan, khususnya anak-anak Kaltara, harus bisa bagus. Ada yang sampai 25 tahun belum pernah tersentuh beasiswa,” ujarnya.
Sejak program tersebut digulirkan, sekitar 721 anak Kaltara telah mendapatkan beasiswa. Jumlah penerima kini disebut telah mendekati 1.000 mahasiswa.
Ke depan, Bastian memasang target lebih besar. UPA ingin memberikan kesempatan kepada 3.000 anak Kaltara untuk mengenyam pendidikan tinggi.
“Target saya sebenarnya anak Kaltara yang dapat beasiswa kuliah di UPA bisa sampai 3.000 orang,” katanya.
Tak hanya membebaskan biaya pendidikan, UPA juga akan memperkuat keterampilan mahasiswa agar mereka tidak sekadar mendapatkan ijazah, tetapi memiliki bekal untuk masuk ke dunia kerja.
“Kami insya Allah akan mempersiapkan para mahasiswa dengan keterampilan dan keahlian untuk siap memasuki dunia kerja,” ujarnya.
Jemput Bola ke Perbatasan
Aktivis Pemuda Kaltara, Santoso, mengatakan program beasiswa UPA memberikan peluang besar bagi pemerataan pendidikan, terutama bagi anak-anak yang tinggal di wilayah perbatasan.
Santoso mengaku telah mengawal program tersebut sejak 2023 dan mulai membawa mahasiswa Kaltara ke UPA pada tahun ajaran 2024.
Latar belakangnya sebagai anak petani membuat persoalan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di perbatasan menjadi perhatian khusus baginya.
Menurut Santoso, Kaltara membutuhkan generasi baru yang nantinya dapat mengisi berbagai sektor strategis, termasuk pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
“Regenerasi sumber daya manusia untuk mengisi pos-pos, baik dari segi kesehatan, pendidikan maupun ekonomi, harus dari alumni Universitas Patria Artha, khususnya adik-adik yang ada di perbatasan,” katanya.
Tahun ini, Santoso tidak lagi hanya mengandalkan sosialisasi melalui sekolah atau instansi pemerintah. Ia memilih turun langsung ke tengah masyarakat untuk mencari calon mahasiswa.
Pendekatan dilakukan dari rumah ke rumah, termasuk mendatangi keluarga yang secara ekonomi kesulitan membiayai pendidikan anaknya.
“Untuk tahun ini saya door to door. Langsung jemput bola dan datang ke rumah masyarakat yang ingin anaknya kuliah,” ujarnya.
Ia menilai ketimpangan akses pendidikan di wilayah perbatasan masih menjadi persoalan serius. Meski terdapat program beasiswa dari pemerintah, belum semua anak memperoleh informasi dan kesempatan yang sama.
“Memang ada beasiswa yang digelontorkan untuk adik-adik kita di sana, akan tetapi hanya segelintir orang yang merasakan,” katanya.
Santoso berharap program UPA tetap berlanjut pada 2027 dan semakin banyak anak dari empat kabupaten dan satu kota di Kaltara yang dapat melanjutkan pendidikan.
Ia juga mendorong Pemerintah Kaltara membangun sinergi dengan berbagai pihak dan memperluas sosialisasi hingga ke tingkat masyarakat paling bawah.
“Mari bangun sinergi, mari bangun kerja sama, dan masuk ke masyarakat, bahkan sampai tingkat terkecil yaitu RT. Datanglah, sosialisasikanlah,” pintanya.
Pengalaman turun langsung ke wilayah perbatasan membuat Santoso melihat sendiri besarnya kebutuhan terhadap akses pendidikan.
Saat mendatangi Desa Tepian di Kecamatan Sembakung Atap, Kabupaten Nunukan, ia harus menggunakan ketinting menyusuri sungai untuk mencapai permukiman warga.
Kehadirannya di desa tersebut bahkan membuat sejumlah orang tua terharu. Mereka mengaku baru pertama kali didatangi pihak yang secara langsung membawa informasi mengenai kesempatan beasiswa pendidikan.
“Orang tuanya sampai menangis. Selama 25 tahun berkeluarga di sini, baru kali ini ada orang yang mencari anak-anak kami ke sini mengenai beasiswa,” tuturnya.
Bagi Santoso, pengalaman itu menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan tidak cukup hanya dengan menyediakan program. Informasi dan akses juga harus benar-benar sampai kepada masyarakat di wilayah terpencil.
Ia menilai beasiswa UPA telah memberikan ruang bagi anak-anak perbatasan untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi.
“Dengan keberadaan beasiswa Universitas Patria Artha ini, adik-adik di perbatasan sangat terbantu. UKT gratis, gedung gratis, biaya pendaftaran pun gratis,” katanya.
Ia berharap kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan sebanyak mungkin anak Kaltara sehingga kelak mereka mampu kembali membangun daerah asal dan menjadi bagian dari regenerasi sumber daya manusia di wilayah perbatasan. (rhm)
