MAROS,UJUNGJARI.COM–Gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Maros tidak hanya menjadi bagian dari program pembangunan keluarga, tetapi juga terus bergerak memperkuat budaya literasi hingga ke tingkat desa dan kelurahan.
Semangat itu mengemuka dalam puncak peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) ke-54 PKK Kabupaten Maros yang dirangkaikan dengan soft launching buku karya Ketua TP PKK Kabupaten Maros, Apt. Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, S.Si., bersama para bunda literasi dari 14 kecamatan, 103 desa dan kelurahan.
Buku berjudul “Menyalakan Cahaya Literasi dari Desa” menjadi catatan atas pengalaman dan pengabdian para kader PKK dalam mendorong gerakan literasi dari tingkat paling bawah. Buku tersebut menghimpun tulisan yang lahir dari pengalaman para penggerak PKK di tengah masyarakat.
Bupati Maros, Chaidir Syam, mengapresiasi dedikasi para kader PKK yang selama ini dinilainya memiliki posisi penting dalam pembangunan daerah.
Menurut Chaidir, PKK merupakan mitra strategis pemerintah karena bekerja langsung menyentuh unit terkecil masyarakat, yakni keluarga.
“PKK memiliki peran yang sangat mendasar dan vital. Melalui peringatan HKG ke-54 ini, saya berharap sinergi dan kolaborasi antara Pemkab Maros dan TP PKK semakin diperkuat, terutama dalam mengawal program-program prioritas seperti penanganan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, serta peningkatan kualitas pendidikan dan ekonomi keluarga,” ujar Chaidir.
Ia juga menyoroti pentingnya peran PKK dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.
Menurutnya, gerakan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan lingkungan yang lebih asri dan masyarakat yang semakin sadar menjaga kebersihan.
“Pemerintah wujudkan Indonesia asri. Ibu-ibu PKK membantu kita mensosialisasikan agar masyarakat bisa mencintai lingkungan serta sadar dalam menjaga kebersihan dengan menghidupkan literasi lingkungan,” katanya.
Pada sisi lain, Chaidir, literasi tidak cukup hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus menjadi gerakan yang hidup dan hadir di tengah masyarakat, termasuk melalui peran kader PKK.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada para pegiat literasi, termasuk Bachtiar Adnan Kusuma, yang dinilai konsisten mendorong gerakan literasi di Kabupaten Maros.
“Terima kasih kepada Bapak Bachtiar Adnan Kusuma serta seluruh penggiat-penggiat literasi yang terus mendorong gerakan-gerakan literasi,” ucapnya.
Chaidir menilai konsistensi dalam menjaga pengetahuan, ilmu, dan kapasitas masyarakat terutama anak muda dan generasi penerus—merupakan gerakan yang sangat penting.
Namun, ia mengingatkan bahwa gerakan literasi tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Keberhasilannya membutuhkan dukungan lintas sektor dan jenjang pemerintahan.
“Tidak mungkin PKK desa akan berhasil kalau tidak disupport oleh kepala desanya. Demikian juga tidak mungkin PKK kecamatan akan berhasil kalau tidak disupport oleh bapak camatnya,” tegasnya.
Begitu pula dengan gerakan literasi di tingkat kabupaten, kata Chaidir, membutuhkan dukungan pemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah terkait.
“Karena itu, mari kita bersinergi yang baik, gerakan yang baik untuk menunjukkan 10 Program PKK,” ajaknya.
HKG sebagai Momentum Bergerak Bersama
Ketua TP PKK Kabupaten Maros, Ulfiah Yusuf, mengatakan HKG ke-54 tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Menurutnya, momentum tersebut harus menjadi ruang refleksi sekaligus pemantik semangat bagi seluruh kader untuk terus berbenah dan bergerak bersama masyarakat.
Ia menegaskan bahwa pelaksanaan program PKK tetap mengacu pada 10 Program Pokok PKK, dengan sejumlah fokus, antara lain optimalisasi Posyandu Era Baru, percepatan penurunan angka stunting, serta penanganan kasus TBC di masyarakat.
“HKG ke-54 ini adalah momentum bagi kita semua untuk memperkuat komitmen. Seluruh kader PKK di Maros harus tetap tangguh, inovatif, dan adaptif dalam mengimplementasikan 10 Program Pokok PKK demi mewujudkan keluarga yang sejahtera, mandiri, dan berkarakter,” tegas Ulfiah.
Di sisi lain, gerakan literasi menjadi warna tersendiri dalam peringatan HKG kali ini. Para kader tidak hanya menjalankan program di lapangan, tetapi juga mulai mendokumentasikan pengalaman mereka dalam bentuk karya tulis.
Buku “Menyalakan Cahaya Literasi dari Desa” menjadi salah satu bentuk nyata gerakan tersebut.
Menulis untuk Meninggalkan Jejak
Tokoh Literasi Nasional Bachtiar Adnan Kusuma dalam prolognya sebelum Soft Launching buku karya Ketua Tim Penggerak PKK Kab.Maros, memberikan motivasi kepada para kader PKK dan bunda literasi. Ia mengangkat gagasan dari buku The Dignity of Writing untuk menggambarkan pentingnya aktivitas menulis sebagai bentuk aktualisasi manusia.
Menurut Bachtiar, manusia memiliki kemampuan berpikir, meramu kata, dan melahirkan gagasan menjadi sebuah karya. Karena itu, menulis bukan sekadar menghasilkan buku, tetapi juga meninggalkan jejak pemikiran dan pengalaman bagi generasi berikutnya.
Ia menilai karya “Menyalakan Cahaya Literasi dari Desa” memiliki nilai penting karena lahir dari pengalaman empiris para kader di lapangan.
Buku tersebut melibatkan para bunda literasi dari 14 kecamatan serta 103 desa dan kelurahan. Sekitar 49 penulis turut menuangkan pengalaman mereka dalam buku yang memiliki ketebalan sekitar 258 halaman, di luar halaman romawi.
Bachtiar menilai tulisan-tulisan tersebut bukan sekadar karya yang disusun dari sumber bacaan, tetapi lahir dari pengalaman para kader dalam menjalankan pengabdian di tengah masyarakat.
“Buku ini sesungguhnya membuktikan bahwa para bunda literasi kita akan dikenang. Karena orang yang menulis buku akan dikenang sejarah,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan karya tersebut dengan teori hermeneutika yang menekankan pentingnya memahami makna melalui pengalaman dan konteks. Menurutnya, pengalaman para kader PKK yang dituangkan dalam tulisan memberikan nilai tersendiri bagi buku tersebut.
Karya itu, kata Bachtiar, sekaligus menunjukkan bahwa para kader PKK bukan hanya menjadi pembaca atau konsumen karya orang lain. Mereka juga mampu menjadi penulis dan produsen pengetahuan berdasarkan pengalaman pengabdian mereka.
“Ini betul-betul membuktikan satu karya tulis yang mengungkapkan berdasarkan pengalaman empiris. Bukan karya asal, tetapi murni karya tulis yang dilahirkan oleh ibu-ibu,” katanya.
Dari Desa, Menyalakan Cahaya
Peringatan HKG ke-54 PKK Kabupaten Maros akhirnya tidak sekadar menjadi perayaan perjalanan organisasi. Di balik rangkaian kegiatan tersebut, muncul pesan bahwa pengabdian di tingkat keluarga dan desa juga dapat menjadi sumber pengetahuan yang layak ditulis, dibaca, dan diwariskan.
Dari tangan para kader PKK, pengalaman di lapangan diubah menjadi cerita. Dari desa, pengalaman itu dirangkai menjadi pengetahuan. Dan melalui buku, pengetahuan tersebut diupayakan agar tidak berhenti pada satu generasi.
Semangat itulah yang hendak dinyalakan melalui “Menyalakan Cahaya Literasi dari Desa”—bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dari siapa saja, termasuk dari para ibu yang setiap hari bekerja di tengah keluarga dan masyarakat.
