MALILI,UJUNGJARI.COM – Di tengah dinamika global serta tantangan cuaca seperti fenomena El Niño yang berpotensi menekan sektor pertanian dan pasokan pangan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur kembali membuktikan keberhasilannya dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Luwu Timur yang dirilis, tingkat inflasi year-on-year (y-o-y) Kabupaten Luwu Timur pada September 2026 tercatat stabil di angka 2,95 persen.
Capaian gemilang ini menempatkan Kabupaten Luwu Timur pada posisi prestisius, yakni masuk dalam jajaran tiga daerah dengan tingkat inflasi terendah di Provinsi Sulawesi Selatan. Luwu Timur berada tepat di bawah Kota Palopo (2,27 persen) dan Kabupaten Bulukumba (2,76 persen), jauh di bawah beberapa wilayah lain di Sulawesi Selatan.
Kepala BPS Kabupaten Luwu Timur, Abdullah Pannu, mengapresiasi kondisi ekonomi daerah yang tetap terjaga dengan baik ini. Menurutnya, stabilitas yang ada merupakan buah dari kerja keras dan kolaborasi lintas sektor yang solid.
”Kondisi inflasi Luwu Timur masih relatif terjaga di tengah tantangan El Niño dan potensi tekanan terhadap produksi serta pasokan pangan. Hal ini tentu perlu terus dipertahankan melalui penguatan program ketahanan pangan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, serta sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan seluruh stakeholder,” ujar Abdullah Pannu.
Rincian Perkembangan Indeks Harga Konsumen
Secara rinci, perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kabupaten Luwu Timur pada September 2026 mencatat beberapa catatan penting:
Inflasi Month-to-Month (m-t-m): Tercatat sebesar 0,62 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi tertinggi adalah Cabai Rawit sebesar 0,22 persen, disusul oleh Daging Ayam Ras (0,18 persen), dan Udang Basah (0,07 persen).
Redaman Deflasi: Di sisi lain, laju inflasi bulanan tertahan berkat andil deflasi dari beberapa komoditas utama, seperti Ikan Layang/Benggol (-0,04 persen), Ikan Teri (-0,03 persen), dan Semangka (-0,03 persen).
Inflasi Year-on-Year (y-o-y): Berada di angka 2,95 persen. Kelompok pengeluaran yang mencatat inflasi y-o-y tertinggi adalah Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran sebesar 5,74 persen (dengan andil 0,42 persen).
Sementara itu, kelompok pengeluaran dengan laju terendah adalah kelompok Kesehatan yang hanya mencatat angka 0,55 persen (dengan andil 0,01 persen).
Komitmen Pemda dalam Menjaga Kesejahteraan Masyarakat
Capaian positif ini mendapat sambutan baik dari berbagai kalangan. Sinergi yang kuat antara Pemkab Luwu Timur, TPID, para petani, distributor, dan seluruh elemen masyarakat terbukti efektif dalam menjaga daya beli serta ketersediaan barang kebutuhan pokok di pasaran.
Keberhasilan menjaga inflasi tetap rendah dan terkendali ini diharapkan tidak membuat cepat puas, melainkan menjadi motivasi bersama untuk terus merawat kestabilan ekonomi daerah.
