GOWA, UJUNGJARI.COM — Sebanyak 12 orang guru bahasa Inggris dari berbagai satuan pendidikan di kabupaten Gowa baru saja selesai mengikuti pelatihan penerjemahan lisan (interpreting) yang dilaksanakan oleh Chairil Anwar Korompot, S.Pd., M.A., Ph.D., Muhammad Miftah Fauzan, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Riny Jefri, S.E., M.Ak., Ak., dosen Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Universitas Negeri Makassar (UNM).
Kegiatan bertajuk “Pelatihan Keterampilan dan Manajemen Penerjemahan Lisan (Interpreting) untuk Mendukung Pengembangan Kewirausahaan dalam Bidang Bahasa” ini dilaksanakan sebagai wujud Program Kemitraan Masyarakat (PKM) FBS UNM tahun akademik 2019-2020.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam keterangannya, Ketua Tim PKM, Chairil Anwar Korompot, Ph.D., mengatakan bahwa pelatihan interpreting ini mengandung dua konten utama, yaitu keterampilan interpreting dan manajemen interpreting.
“Di satu sisi, keterampilan berkaitan dengan kompetensi melakukan penerjemahan lisan yang melibatkan kecakapan berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia. Di sisi lain, manajemen berkaitan dengan pengelolaan interpreting sebagai suatu kegiatan professional.” terang Chairil Anwar.
Anggota Tim PKM, Muhammad Miftah Fauzan, menambahkan bahwa kegiatan PKM ini dilatarbelakangi pemikiran bahwa perlahan tapi pasti Pemerintah Daerah dan masyarakat Kabupaten Gowa akan makin membutuhkan jasa penerjemah lisan untuk berbagai keperluan.
“Kebutuhan tersebut sudah mulai terasa, terutama dengan keberadaan Kabupaten Gowa sebagai bagian dari Metropolitan Mamminasata (Makassar, Mariso, Sungguminasa, dan Takalar),” urai Fauzan.
Kota masa depan Mamminasata diyakini memiliki potensi yang amat besar dalam berbagai bidang sehingga. “Ini akan menarik minat warga internasional untuk berkunjung, baik untuk tujuan wisata, bisnis, pemerintahan, maupun keperluan-keperluan lain yang mungkin membutuhkan jasa penerjemah lisan” ujarnya.
Anggota Tim PKM yang lain, Dr. Riny Jefri, menegaskan peran penting para guru bahasa Inggris di berbagai wilayah Gowa dalam konteks ini, dan menurutnya ada dua alasan utama.
Pertama, guru bahasa Inggris sendiri adalah individu yang diyakini memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia yang baik. Dr. Riny meyakini bahwa para guru bahasa Inggris.
“Dapat menjalankan peran sebagai penerjemah lisan jika diperlukan, namun mereka perlu berlatih dan belajar.” ujarnya.
Kedua, menurut Dr. Riny, guru bahasa Inggris membina peserta didik di satuan pendidikan menengah pertama dan atas, dan karena itu dia yakin bahwa para guru bahasa Inggris.
“Dapat menjadikan keterampilan menerjemahkan lisan sebagai salah satu kegiatan pembelajaran bagi para peserta didik, baik untuk yang bersifat kurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstra-kurikuler.” pungkasnya.
Selaku pelaksana PKM, Dr. Korompot menambahkan pula bahwa bagi para guru bahasa Inggris, pelatihan keterampilan menerjemahkan secara lisan dapat dilaksanakan dan dikembangkan sebagai bentuk kewirausahaan untuk menambah penghasilan tidak saja untuk mereka sendiri, namun juga bagi peserta didik mereka, atau masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa, Dr. Salam, M.Pd., menyatakan gembira bahwa para guru bahasa Inggris di wilayahnya dipilih menjadi sasaran kegiatan PKM ini.
Ia berharap bahwa para guru peserta memanfaatkan kesempatan seperti ini demi peningkatan dan perluasan kapasitas dan kompetensi mereka dan peserta didik.
Kegiatan PKM ini juga dipandang bermanfaat sebagai salah satu bentuk pengembangan professional guru atau teacher professional development.
Dr. Salam juga mengapresiasi tim pelaksana dan peserta PKM yang melaksanakan kegiatan ini melalui aplikasi Zoom sebagai upaya mematuhi protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19.
Terpisah, Muhammad Saleh, salah satu peserta kegiatan menyampaikan ucapan terima kasih atas terpilihnya dirinya dan rekan-rekannya sebagai peserta PKM ini.
Guru SMP Negeri 1 Parangloe ini berharap pelatihan seperti ini dapat dilaksanakan secara berkesinambungan di Gowa di waktu-waktu mendatang karena, menurutnya, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk pengembangan diri dan profesi kami sebagai guru bahasa Inggris, dan ilmu yang kami dapat dari sini dapat kami tularkan juga kepada siswa-siswa kami di sekolah. (*)

