MAKALE, UJUNGJARI–Pasca pasar hewan Bolu Rantepao ditutup, pemerintah dua kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara sudah tegas perketat pengawasan kerbau dan sapi tidak boleh masuk di Toraja setelah gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) diduga mulai menyerang hewan ternak kerbau di dua kabupaten kembar ini.

Antisipasi PMK di Toraja tidak meluas, Rabu (6/7) Tim Balai Besar Veteriner Maros dengan APD lengkap mengambil sampel darah dan swab kerbau pada bagian leher di Ariang milik Herman Pasolang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebanyak 17 ekor kerbau diambil sampel darahnya dibawa ke BBV  Maros di uji laboratorium memastikan gejala klinis Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Toraja, dan Jumat (8/7) hasilnya sudah keluar, ujar Kepala BBV Maros, Risman Manggidi.

Diakui Risman, gejala PMK kerbau di Tana Toraja diketahui setelah pemiliknya Herman Pasolang melaporkan kejadian tersebut dengan gejala air liur dan ingus  keluar berlebihan, dan ada juga luka di sela-sela kuku kaki kerbau, sebelumnya dibeli pemilik dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Terpisah Herman jelaskan ternak kerbau miliknya sudah disuntik petugas, dan hasilnya ada perubahan kerbaunya sudah mulai makan, dan luka mulai mengering, dan air liur dari hidung sudah berkurang.

Saya berharap gejala PMK didaerah ini berakhir sebab begitu tinggi permintaan dan kebutuhan hewan kerbau, utamanya pesta rambu solo dan jelang idhul adha, dingkat Herman. (agus)