TAKALAR, UJUNGJARI-Keberadaan pabrik gula Takalar yang terletak di Desa Massamaturu, Kecamatan Polongbangkeng Utara menjadi perguncingan masyarakat yang bermukim di sekitar area pabrik gula tersebut.

Bagaimana tidak, limbah cair yang diduga merupakan produksi pabrik gula yang terbuang ke anak sungai dalam area pabrik gula menimbulkan bau tak sedap, paling tidak kuat dugaan limbah produksi pabrik gula Takalar telah mencemari lingkungan sekitar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain bau busuk menyengat yang meresahkan warga efek pembuangan limbah itu juga mulai mencemari sumur warga sekitar.

“Limbah yang dihasilkan oleh pabrik gula itu yang dibuang ke sungai mulai menimbulkan bau busuk yang menyengat, bahkan limbah itu juga mulai mencemari sumur sumur warga,” Aku Hj Lawatia Daeng Caya, saat ditemui pihak pewarta, Kamis (7/7/2022)

Selain warga Desa Massamaturu yang mengeluhkan buangan limbah pabrik gula tersebut, warga Desa Balangtanaya yang merupakan desa tetangga Massamaturu juga turut merasakan dampak pencemaran limbah industri pabrik gula itu.

“Kami minta pihak pabrik gula konsisten dan bertanggung jawab atas pembuangan limbah itu, dimana dengan adanya limbah yang mencemari anak sungai telah meresahkan warga dengan adanya bau yang sangat busuk,” Tutur Hasanuddin warga desa Balangtanaya.

Sementara itu, pihak pabrik gula Takalar melalui salah satu karyawannya, Naswadi membantah jika limbah tersebut terbuang ke sungai.

“Saya yakin, limbah pabrik gula tidak dibuang ke sungai karena, karena pabrik gula itu memiliki instalasi pembuangan air limbah,” Tampik Naswadi

Naswadi juga mengatakan bahwa pihaknya baru mengetahui adanya keluhan warga soal limbah pabrik gula yang diduga mencemari sungai dan sumur warga Balangtanaya.

” Saya baru tahu kalau ternyata ada warga Balangtanaya yang resah soal limbah pabrik gula yang mencemari sungai. Baru hari ini saya dapat informasinya,” kata Kaswadi.

Dia juga memohon maaf kepada masyarakat Balangtanaya jika ada kelalaian dari pihaknya soal limbah yang mencemari sungai dan sumur warga Balangtanaya.

“Kalau kami dari pabrik gula tidak pernah membuang limbah ke sungai, kalau pun itu terjadi mungkin limbah resapan dari ladang tebuh, karena limbah disini kita buang ke ladang tebuh,” ujar Kaswadi. (Ari Irawan)