MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Sejumlah pihak mempertanyakan alasan pembongkaran dan pengaspalan ulang Jalan Poros Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar. Pasalnya, sebelum proyek dikerjakan, kondisi jalan nasional tersebut dinilai masih relatif baik dan mulus serta belum menunjukkan tingkat kerusakan berat yang mendesak untuk dilakukan rekonstruksi total.

Dosen Teknik Sipil Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Ir. Ahmad Fauzan, ST, MT, menilai kebijakan mengeruk dan mengaspal ulang jalan yang masih layak fungsi patut dipertanyakan dari sisi perencanaan teknis dan efisiensi anggaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Secara visual dan fungsional, Jalan Perintis Kemerdekaan dalam beberapa tahun terakhir masih cukup baik. Jika tidak ada kerusakan struktural pada lapisan pondasi, seharusnya tidak perlu dilakukan pengerukan total,” ujarnya.

Menurutnya, dalam manajemen jalan nasional, pekerjaan peningkatan seharusnya berbasis kondisi teknis jalan (road condition survey), bukan sekadar penyerapan anggaran atau rutinitas proyek tahunan.

“Kalau jalan masih baik lalu dibongkar dan diaspal ulang, sementara di tempat lain banyak ruas yang rusaknya lebih parah tapi tidak disentuh, ini menimbulkan pertanyaan publik. Apakah perencanaan sudah berbasis prioritas kebutuhan atau tidak,” tegasnya.

Ia juga menyoroti risiko kualitas pekerjaan jika proyek dipaksakan dikerjakan di akhir tahun dan bertepatan dengan musim hujan. Kondisi tersebut, kata dia, sangat mempengaruhi daya lekat aspal dan berpotensi mempercepat kerusakan dini.

“Bukan tidak mungkin aspal cepat terkelupas karena faktor cuaca dan proses pelaksanaan yang tidak ideal. Di sini kontraktor dan pengawas harus bertanggung jawab penuh,” tambahnya.

“Saya ini tinggal di Perdos Unhas Tamalanrea, setiap hari saya lewat poros Perintis,” ketusnya.

Dr. Fauzan menegaskan, proyek jalan nasional seharusnya mengutamakan asas manfaat, ketahanan jangka panjang, dan akuntabilitas publik, bukan sekadar menggugurkan paket pekerjaan. (drw)