MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Pekan ke-23 kompetisi musim ini menjadi ujian berat bagi PSM Makassar. Tim Juku Eja dijadwalkan menghadapi Persebaya Surabaya, yang kini dilatih mantan arsitek PSM, Bernardo Tavares.
PSM Makassar akan melawat ke markas rival lawasnya di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) pada Rabu (25/2/2026). Pertandingan itu dijadwalkan kick off pukul 20.30 WIB atau 21.30 Wita.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Laga ini diprediksi berlangsung sengit. Selain faktor emosional karena Tavares pernah menjadi bagian penting dalam sejarah PSM, posisi klasemen membuat pertandingan semakin krusial.
PSM mengusung misi wajib menang demi menjauh dari kejaran tim-tim di zona merah.
Nama Bernardo Tavares tentu bukan sosok asing bagi publik Makassar. Pelatih asal Portugal itu pernah membawa PSM meraih gelar juara Liga 1 dan konsisten bersaing di papan atas.
Strategi khasnya, yakni mengandalkan long ball dan skema serangan balik cepat (counter attack), sempat menjadi senjata mematikan Pasukan Ramang.
Namun, situasi kini telah berubah. PSM berada di bawah komando pelatih baru, Tomas Trucha, yang mengusung filosofi permainan ball possession.
Meski hasil yang diraih sejauh ini belum sepenuhnya sesuai harapan, manajemen dan suporter diharapkan tetap memberikan dukungan penuh kepada tim.
“Sekarang saatnya move on. Kita pernah berjaya bersama Coach Bernardo, tapi kini kita harus percaya pada Coach Tomas. Tim ini butuh dukungan, bukan tekanan,” ujar Middi, salah satu suporter setia PSM.
Legenda PSM, Syamsuddin Umar, turut memberikan pandangannya jelang laga krusial tersebut.
Menurutnya, pertandingan ini bukan sekadar soal taktik, tetapi juga soal mental dan karakter pemain.
“Ini pertandingan berat karena kita menghadapi tim yang dilatih mantan pelatih PSM. Mereka tentu sudah paham karakter sepak bola Makassar. Tapi pemain tidak boleh terbebani. Kuncinya disiplin, fokus, dan jangan mudah kehilangan konsentrasi,” ujar Syamsuddin Umar.
Ia juga menegaskan bahwa perubahan gaya bermain membutuhkan proses. “Setiap pelatih punya filosofi. Dulu kita sukses dengan strategi tertentu, sekarang dengan pendekatan berbeda. Pemain harus cepat beradaptasi dan suporter harus tetap memberi dukungan. Dalam situasi seperti ini, kebersamaan sangat penting,” tambahnya.
Dengan sisa pertandingan yang semakin sedikit, setiap poin menjadi sangat berarti. Duel kontra Persebaya bukan hanya soal gengsi melawan mantan pelatih, tetapi juga tentang harga diri dan perjuangan PSM untuk menjauh dari ancaman degradasi.
Semua mata akan tertuju pada laga ini. Mampukah PSM bangkit dan mengamankan tiga poin penting di pekan ke-23? Dukungan suporter diyakini menjadi energi tambahan bagi Juku Eja untuk tampil maksimal. (**)

