GOWA, UJUNGJARI.COM – Arus informasi digital yang kian tak terbendung membawa tantangan besar bagi generasi muda dalam membedakan antara realitas dan narasi buatan.

Menanggapi fenomena tersebut, mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar menggelar workshop edukatif di SMA Negeri 8 Gowa pada Jum’at (8/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegiatan yang mengusung tema ‘Navigasi di Era Post-Truth: Seni Membedakan Fakta dan Manipulasi Digital’ ini hadir sebagai langkah konkret dalam membekali siswa dengan kecerdasan literasi media yang mumpuni.

Suasana penuh antusiasme menyelimuti ruangan saat acara dimulai, menandai dimulainya kolaborasi strategis antara akademisi dan institusi pendidikan menengah.

Dalam sesi pembukaan, Naing selaku perwakilan guru SMAN 8 Gowa menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada rombongan mahasiswa yang hadir dalam workshop tersebut.

Naing menekankan bahwa kehadiran mahasiswa Ilmu Komunikasi di sekolahnya, membawa manfaat besar bagi para siswa, terutama dalam memahami cara membedah informasi yang beredar luas di berbagai platform digital saat ini agar tidak terjebak dalam kesesatan informasi.

Pada kesempatan itu, dosen pengampu mata kuliah Teknik Presentasi dan Negosiasi Suryani Musi saat membuka kegiatan secara resmi, menekankan pentingnya pemahaman praktis yang mampu menyatukan antara teori akademik yang dipelajari di bangku perkuliahan dengan realitas tantangan yang ada di lapangan.

Menurut Suryani, sinergi ini sangat dibutuhkan agar para siswa memiliki landasan berpikir yang kuat dalam menghadapi distorsi informasi yang menjadi ciri khas dari era post-truth.

Workshop ini menghadirkan Dea Audia Elsaid sebagai pemateri mengenai ‘Navigasi di Era Post-Truth’. Dea menjelaskan bagaimana struktur informasi di dunia maya telah berubah, di mana batas antara kebenaran dan opini seringkali menjadi kabur akibat algoritma media sosial.

Dea pun hadir membekali para siswa dengan strategi navigasi mental agar tetap kritis dalam menyerap informasi dan tidak mudah terbawa oleh arus sentimen yang sengaja diciptakan untuk mengaburkan fakta objektif di ruang siber.

Sementara materi kedua disampaikan oleh Suryani Musi sendiri dengan tema cukup menarik yakni ‘Kamu Boleh Viral, Tapi Harus Benar’. Melalui pendekatan yang praktis dan relevan dengan tren masa kini, Suryani menekankan bahwa popularitas di dunia digital tidak boleh mengabaikan etika dan kebenaran data.

Siswa pun diajak untuk memahami bahwa menjadi kreatif dan viral adalah hal positif, namun integritas tetap menjadi landasan utama agar konten yang dihasilkan tidak menjadi sumber disinformasi bagi masyarakat luas.

Kegiatan workshop ini juga diisi diskusi interaktif yang melibatkan para siswa secara aktif. Dan para peserta sangat antusias dalam sesi tanya jawab. Siswa sebagai peserta mencoba mendalami cara menjaga kejujuran konten di tengah kompetisi perhatian di media sosial.

Interaksi ini menciptakan ruang belajar yang dinamis, di mana teori komunikasi diuji langsung melalui contoh-contoh kasus nyata yang sering dialami oleh para siswa dalam keseharian mereka berinteraksi di dunia digital.

“literasi digital akan menjadi fondasi kuat bagi siswa dalam menjaga kemurnian informasi di masa depan. Melalui sinergi antara akademisi FDK UINAM dan pihak sekolah, diharapkan lahir generasi baru yang tidak hanya mengejar eksistensi digital tapi juga mampu menjadi penjaga kebenaran di tengah badai manipulasi. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan komunikasi yang berbasis pada realitas lapangan sangat krusial dalam menciptakan masyarakat digital yang cerdas dan berintegritas,” ucap Suryani. –