SOPPENG, UJUNGJARI.COM —  Politikus senior Partai Golkar, Supriansa, menegaskan bahwa perjuangan hidup tidak boleh berhenti hanya karena kegagalan politik. Hal itu disampaikannya saat berbincang santai bersama sejumlah kader dan masyarakat di Warkop Camidu, Soppeng, Sabtu (16/5/2026).

Dalam suasana penuh keakraban, mantan anggota DPR RI itu menyampaikan pesan yang sarat motivasi. Menurutnya, setiap orang harus tetap berani berjuang karena rezeki sudah diatur oleh Allah SWT dan tidak akan pernah tertukar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jangan pernah takut untuk berjuang karena rezeki itu tidak pernah tertukar,” ujar Supriansa.

Pengurus DPP Partai Golkar itu juga mengenang perjuangannya saat bertarung di Daerah Pemilihan (Dapil) II Sulawesi Selatan pada Pileg lalu. Meski gagal kembali melenggang ke Senayan untuk periode kedua, Supriansa mengaku menerima hasil tersebut dengan lapang dada.

“Kalau rezekinya bukan di Senayan sebagai anggota DPR RI, pasti ada rezeki di tempat lain. Allah sudah mengatur dan menentukan rezeki setiap hambanya. Yang penting kita sudah berusaha maksimal, sisanya serahkan kepada Allah,” katanya.

Sosok yang dikenal dekat dengan berbagai kalangan itu datang ke Soppeng dalam agenda Rapat Konsolidasi Partai Golkar Sulawesi Selatan Dapil II.

Konsolidasi tersebut dihadiri pengurus dan kader dari sembilan kabupaten/kota, yakni Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Bone, Sinjai, Wajo, Bulukumba, dan Soppeng sebagai tuan rumah.

Bagi Supriansa, hasil politik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan perjuangan. Ia menilai proses membangun komunikasi, menjaga silaturahmi, dan mengabdi kepada masyarakat jauh lebih penting daripada sekadar jabatan.

Kehadiran Supriansa di tengah kader Golkar Dapil II pun menjadi suntikan semangat tersendiri. Usai agenda konsolidasi, ia dijadwalkan kembali ke Makassar sebelum bertolak ke Jakarta.

Pesan Supriansa tentang rezeki dan perjuangan mendapat respons positif dari warga yang hadir di Warkop Camidu. Bagi mereka, pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti hanya karena gagal meraih sebuah jabatan politik. (Daus)