MAKASSAR,UJUNGJARI.COM — Pernyataan Ikatan Alumni (IKA) Muda Universitas Negeri Makassar (UNM) yang menolak keberadaan figur non-alumni dalam bursa Pemilihan Rektor UNM periode 2027–2031 menuai kritik keras.
Sikap ego-sektoral dan dikotomi alumni vs non-alumni tersebut dinilai membatasi ruang akademik dan mencederai nilai kebebasan akademik perguruan tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kecaman menohok datang dari Guru Besar UNM Makassar, Prof. Dr. Arifuddin Usman, M.Kes. Pria yang juga dikenal sebagai akademisi senior ini menyayangkan narasi yang dihembuskan oleh kelompok yang mengatasnamakan alumni muda tersebut.
Menurut Prof Arifuddin, institusi perguruan tinggi kelas dunia seperti UNM tidak boleh dikotakkan oleh sentimentil asal-usul alumni.
Mantan Wakil Rektor bidang kemahasiswaan UNM ini meneyebu kampus sebagai ruang terbuka yang mengedepankan rekam jejak, visi kepemimpinan, integritas, dan kapasitas intelektual demi kemajuan lembaga.
“Pernyataan yang menolak figur non-alumni itu sangat kerdil dan menyesatkan. UNM ini lembaga pendidikan tinggi, bukan organisasi kemasyarakatan atau perkumpulan alumni yang kepemimpinannya disekat oleh batasan almamater semata. Siapa pun akademisi yang memenuhi syarat regulasi dan punya visi membawa UNM makin unggul, berhak bertarung,” tegas Prof Arifuddin, Senin (28/9/2026).
Ia menambahkan, statuta dan aturan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tidak pernah mensyaratkan calon rektor wajib alumni S1, S2, atau S3 dari kampus setempat, sepanjang mereka memenuhi kualifikasi sebagai dosen ASN yang berprestasi dan berintegritas.
Prof Arifuddin mengingatkan agar alumni muda tidak memicu kegaduhan yang tidak perlu di tengah proses demokrasi kampus yang sehat.
Ia meminta IKA Muda UNM berfokus memberikan sumbangsih ide, inovasi, dan kolaborasi untuk almamater, ketimbang membangun benteng primordialisme yang justru menghambat kemajuan UNM di kancah nasional maupun internasional.
“Jangan bawa UNM mundur ke belakang dengan pemikiran yang sempit. Kita butuh pemimpin yang visioner, sanggup menjawab tantangan zaman, dan mampu membawa UNM bersaing secara global. Baik alumni maupun non-alumni, jika mereka punya gagasan hebat dan kapasitas mumpuni, harus diberi ruang yang sama,” tambahnya.
Proses bursa Pemilihan Rektor UNM periode 2027–2031 sendiri diharapkan berjalan secara demokratis, objektif, dan terbebas dari intimidasi narasi sekatan almamater.
Guru bear Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNM Makassar itu menambahkan saat ini ada beberapa alumni UNM Makassar yang sukses menjadi pimpinan di universitas lain.
Salah satunya adalah Prof Dr Baharuddin alumni Teknik UNM yang menjadi rektor di Universitas Medan.
Selain itu juga ada alumni Fakultas Ekonomi UNM, Dr E Muhtar yang menjadi Wakil Rektor bidang Sumber Daya Manusia di Universitas Sebelas Maret.
Sebelumnya ada alumni FMIPA UNM, Prof Dr Djaali yang menjadi rektor di Universitas Negeri Jakarta.

