MAKASSAR,UJUNGJARI.COM— Atmosfer perpolitikan di Kampus Menara Pinisi, Universitas Negeri Makassar (UNM), kian dinamis menjelang perhelatan Pemilihan Rektor (Pilrek) periode 2026–2031.
Di tengah riuhnya bursa bakal calon, arus dukungan terhadap Wakil Rektor Bidang Akademik UNM, Prof. Dr. Hj. Andi Aslinda, M.Si berhembus makin kencang dan meluas menembus sekat-sekat fakultas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Satu per satu tokoh akademis mulai menentukan sikap secara terbuka. Salah satu pernyataan dukungan paling bernas datang dari Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNM, Prof. Dr. Juhanis, S.Pd., M.Pd.
Dalam keterangannnya, Prof. Juhanis tidak hanya menegaskan komitmen penuh untuk memenangkan Prof. Aslinda, tetapi juga membedah perubahan Peta Geopolitik Kampus yang dinilainya kini jauh lebih sehat dan rasional.
Membedah konstelasi Pilrek kali ini, Prof. Juhanis menilai adanya pergeseran paradigma yang cukup mendasar di lingkungan sivitas akademika UNM.
Jika pada perhelatan sebelumnya peta kekuatan kerap terkotak-kotak oleh patronase atau kelompok figur tertentu, maka Pilrek kali ini dinilainya berlangsung di atas lapangan permainan yang jauh lebih terbuka.
Prof Juhanis secara gamblang menyinggung soal narasi pengelompokan yang kerap dikaitkan dengan rezim kepemimpinan terdahulu.
Menurutnya, dinamika yang kerap dijuluki publik sebagai “Geng Prof. Karta Jayadi” kini telah lebur dan tidak lagi relevan dalam percaturan politik kampus.
“Kondisi Pilrek hari ini sangat jauh berbeda dibanding periode sebelumnya. Peta politik kampus sudah mencair sepenuhnya. Sudah tidak ada lagi yang namanya ‘Geng Prof. Karta Jayadi’ atau kubu-kubuan eksklusif semacam itu,” tegas Prof. Juhanis.
Faktor pemicunya, lanjut Prof. Juhanis, terbilang objektif dan alami. Selain karena Prof. Karta Jayadi sudah tidak menjabat rektor lagi, sejumlah pilar utama dan loyalisnya di jajaran birokrasi maupun akademis juga telah memasuki masa purnabakti atau pensiun.
Di mata Prof Juhanis, meluasnya dukungan terhadap Prof. Aslinda bukan terjadi karena kebetulan atau manuver politik sesaat, melainkan buah dari konsistensi dan keberanian moral sang akademisi perempuan tersebut selama mengemban amanah sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik.
Di bawah komandonya, tatanan akademik UNM dinilai mengalami transformasi yang cukup fundamental. Prof. Juhanis menyoroti tiga pilar terobosan utama yang menjadi bukti sahnya kapasitas kepemimpinan Prof. Aslinda.
Salah satunya memiliki political will yang sangat kuat untuk menyapu bersih praktik-praktik tak terpuji yang berpotensi mencederai marwah kampus.
Melalui digitalisasi sistem penilaian dan transparansi evaluasi, celah transaksi atau jual beli nilai ditutup rapat.
Langkah berani ini mendapatkan simpati mendalam dari para akademisi yang merindukan iklim pendidikan yang bersih dan berkeadilan.
Di bawah pengawalan Prof Aslinda, UNM berhasil merumuskan dan menetapkan Mata Kuliah Umum (MKU) Penciri UNM. Program ini dirancang khusus untuk membentuk fondasi karakter, etika, serta kedisiplinan mahasiswa, sehingga setiap alumni yang keluar dari Menara Pinisi memiliki core identity yang kuat dan berdaya saing tinggi di pasar kerja global.
Untuk menjawab tantangan zaman yang menuntut efisiensi, Prof. Aslinda mencetuskan skema studi percepatan (fast track). Kebijakan ini memberi karpet merah bagi mahasiswa berprestasi untuk merengkuh gelar Sarjana (S1) sekaligus Magister (S2) dalam rentang waktu yang efisien, sehingga mempercepat lahirnya SDM muda berkualitas tinggi dari rahim UNM.
Melihat rekam jejak dan dinamika yang ada, Prof. Juhanis optimistis bahwa proses transisi kepemimpinan di UNM akan berjalan mulus dan melahirkan nakhoda yang tepat.
Menurutnya, UNM membutuhkan figur yang tidak sekadar pandai berwacana, tetapi teruji secara klinis dalam mengeksekusi kebijakan-kebijakan strategis.

