JAKARTA,UJUNGJARI.COM — Momen hangat tercipta di sela peringatan HUT ke-81 TNI di Cilangkap, Jakarta, Senin (5/10/2026). Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., tampak berjalan bersama dan berbincang akrab dengan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Sugiono.
Pertemuan dua figur penting dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini mencuri perhatian. Meski berlangsung informal, perjumpaan tersebut sarat makna mengingat keduanya memegang peranan kunci dalam mengawal agenda pembangunan manusia dan ketahanan kesehatan nasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sektor Kemenko PMK dan BPOM memiliki irisan kebijakan yang sangat luas. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) berkaitan erat dengan jaminan kesehatan masyarakat. Hal ini mencakup ketersediaan obat yang aman dan bermutu, keterjaminan pangan bergizi, hingga kemandirian industri farmasi nasional.
Di bawah kepemimpinan Taruna Ikrar, BPOM tidak sekadar bertindak sebagai lembaga pengawas, melainkan simpul strategis ekosistem kesehatan dan ekonomi. BPOM terus mendorong diplomasi regulatori, inovasi produk biologi, serta penguatan industri dalam negeri agar daya saing Indonesia meningkat di tengah kompleksitas tantangan global—mulai dari ketergantungan bahan baku hingga adaptasi teknologi kedokteran berbasis kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, Sugiono melalui Kemenko PMK memegang peran orchestrator lintas kementerian dan lembaga. Koordinasi yang solid antara Kemenko PMK dan BPOM menjadi modal krusial untuk memastikan regulasi kesehatan berjalan seiring dengan pertumbuhan industri dan perlindungan masyarakat.
Perjumpaan singkat di Cilangkap ini menegaskan pentingnya komunikasi lintas sektor. Menuju visi Indonesia Emas 2045, ketahanan obat dan keamanan pangan merupakan fondasi utama untuk mencetak manusia Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing.

