GOWA, UJUNGJARI.COM — Hingga kini progres pengerjaan konstruksi bendungan Je’nelata terus berjalan dan telah mencapai 36 persen. Progres ini tentunya memberikan gambaran bahwa estimasi dua tahun ke depan atau pada tahun 2028 mendatang bendungan Je’nelata sudah berdiri kokoh dan hadir sebagai penyanggah waduk Bilibili yang sudah berdiri lebih dahulu. (Waduk Bilibili dimulai dibangun pada 1991-1992 dan resmi beroperasi secara penuh pada 1999).
Keberadaan bendungan Je’nelata yang fungsinya sebagai pengurai banjir di hulu sungai Je’neberang (aliran sungai Je’nelata bermuara di sungai Je’neberang tepat di jalur pembuangan/pintu pembuangan Waduk Bilibili) akan hadir berdampingan dengan Waduk Bilibili.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kini progres pembangunan bendungan Je’nelata telah berjalan namun baru pada tahapan pekerjaan bangunan spillway serta pembuatan sejumlah akses di area konstruksi bendungan.
Humas Proyek Bendungan Je’nelata Sigit Hidayat Kurniawan pada Kamis (8/10) menjelaskan untuk 36 persen tingkat pekerjaan konstruksi bendungan Je’nelata baru mencakup beberapa pekerjaan dasar antara lain pembuatan jalur akses ke kawasan proyek, spillway (pintu pelimpah) serta intake untuk pembuangan air, akses pengalihan (pembangunan gedung baru semisal fasilitas sekolah, kantor pemerintah, mesjid dan lainnya), akses pengelak (struktur pengalihan aliran sungai agar area konstruksi tetap kering) , pondasi bendungan dan akses untuk ke quarry (quarry adalah lokasi penambangan terbuka untuk mengambil material batuan dan tanah untuk mengisi tubuh bendungan).

Pada progres awal ini, pekerjaan belum berat. Diakui Sigit, fase terberat ada pada pekerjaan timbunan dan itu belum dilakukan. Waktunya masih lama.
“Tahapan timbunan baru dilakukan pada November depan. Khusus timbunan ini memakan waktu setahun sehingga diestimasi proses timbunan ini kurang lebih setahun lamanya. Itu pada 2027 tahun depan. Fase timbunan Inilah yang memakan waktu lama. Kenapa? Karena pada timbunan ini bukan sekadar ditimbun saja, ada proses bertahap untuk pemadatan material. Ada hitung-hitungannya. Material harus ditimbun dan dipadatkan secara bertahap. Pemadatannya berlapis. Pada proses ini membutuhkan pengendalian teknis agar kepadatan dan kekuatan material sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Enggak bisa langsung tinggi. Ada proses pemadatannya, harus per layer (lapisan) dan itu ada hitungannya. Khusus proses genangan itu baru dilakukan pada 2028 mendatang setelah semua proyek rampung,” kata Sigit.
Terkait bangunan spillway, menurut Sigit, bangunan ini memang paling awal dibangun setelah akses jalan. Kenapa? Karena spillway itu posisinya ada di tengah-tengah sisi kanan kiri bendungan di area pembuangan
“Spillway duluan dibangun karena tahapannya begitu. Tinggi spillway-nya dari dasar bendungan itu sama dengan tubuh bendungannya, yah sekitar 62 meter lebih,” jelasnya.
Secara detil Sigit menyebutkan bahwa tipe bendungan adalah CFRD (Concrete Front Rockfill Dam) dengan panjang bendungan 1.525 meter, tinggi bendungan 62, 80 meter.
Luas genangan mencapai 12.200 meter persegi dan tampungan efektif yakni 174,70 juta meter kubik.
Bangunan penting lainnya selain spillway adalah bangunan kantor pengelola itu. Bangunan ini baru didirikan nanti setelah konstruksi utamanya jadi. Biasanya dibangun di akhir atau akan mendekati akhir proyek, termasuk gedung kontrol, menara pantau, kemudian rumah dinas untuk pengelola.
Proyek yang sudah berjalan sejak 2023 ini kata Sigit tidak seperti membangun jembatan yang bisa dikerja bersamaan yakni pgar kiri dan kanan.
“Kalau bendungan itu jadi tidak langsung bisa digenangi air. Ada tahapannya lagi dan ada perhitungan-perhitungannya. Untuk mengisi genangan, kita perhitungkan betul. Ada hitungan teknisnya enggak sembarangan. Dilihat catchment area-nya, das-nya, luas das-nya, catchment area tangkapan airnya berapa? Jadi kita jadi tahu dalam menentukan bendungan itu tinggi bendungannya berapa atau apa? Itu semua ada hitungannya, menentukan itu tinggi bendungannya supaya dia bisa menampung berapa, target yang mau dicapai berapa dengan catchment area yang ada, dengan luas das yang ada, ketahuan itu. Nanti ada namanya tampungan efektif, ” jelasnya.
Sigit mengatakan, membangun konstruksi bendungan itu banyak tahapannya. Kerjanya tidak bisa loncat-loncat. Karena itu pembangunan jembatan kelihatannya lambat padahal tidak, karena memang sudah ada tahapan-tahapan yang harus diselesaikan.
“Selain punya tahapan, pengerjaan bendungan pun penuh kehati-hatian. Perencanaan kekuatan atau ketahanan bendungan itu yakni 50 sampai 100 tahun. Makanya konstruksinya harus kuat dengan hitungan yang tepat. Perlu masyarakat tahu bahwa pekerjaan bendungan itu bukan cuma diawasi oleh konsultan supervisi atau oleh Kementerian PUPR. Tapi kita juga diawasi langsung oleh Komisi Keamanan Bendungan. Kalau dicoba di internet ada, Komisi Keamanan Bendungan Besar Indonesia. Komisi keamanan ini sudah mulai bekerja awal perencanaan. Semua tahapan membangun bendungan ini komisi keamanan yang menentukan, boleh enggak bangunan bendungan ini dibangun? Jika perencanaannya tidak matang dan belum memenuhi syarat, maka bendungan tidak boleh dibangun, ” jelas Sigit.
Dijabarkan kewenangan komisi, menurut Sigit setiap tahapan pekerjaan yang disetujui oleh Komisi Keamanan Bendungan Besar Indonesia itu disertai sertifikasi keamanan bendungan dan itu hanya dikeluarkan oleh Komisi Keamanan Bendungan Besar Indonesia. Dan untuk mendapatkan sertifikasi keamanan maka semua dokumen perencanaan disidang dulu
“Semua ahli yang terlibat dalam perencanaan itu dipanggil, terus disidang satu per satu. Bahwa ini pakai, ini hitungannya pakai apa, dasarnya apa, dan sebagainya. Jika bersyarat maka komisi keamanan baru memberikan sertifikasi keamanan bendungan. Kalau sudah keluar sertifikasi, barulah pekerjaan dilelang. Terus selama pekerjaan ini dikerja, diawasi terus oleh komisi ini. Jadi tidak segampang itu. Begitupun jika ada perubahan di lapangan harus ada izin komisi ini. Kalau komisi bilang stop, kerja stop,” papar Sigit. –

