HAMBURG, UJUNGJARI.COM – Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada September 2025 menunjukkan lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental. Di Jerman, riset tahun 2024 mencatat tingginya gejala depresi atau kecemasan, dengan perempuan usia muda termasuk kelompok yang rentan.
Sementara di Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia berusia 10–17 tahun, atau sekitar 15,5 juta orang, mengalami masalah kesehatan mental.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesehatan mental pun merupakan isu penting yang perlu mendapat perhatian bersama.
Karena itu, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg bekerjasama dengan Ruanita Indonesia, Kesmenesia, dan Life Architekture menyelenggarakan lokakarya dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia.
Renata Siagian, KJRI Hamburg.
Lokakarya digelar di aula KJRI Hamburg, pada Sabtu 10 Oktober 2026. Dalam lokakarya itu, KJRI mengusung tema ‘Rekat Bersama, Merawat Jiwa’. Kegiatan ini merupakan upaya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental serta membangun ruang yang aman, inklusif dan suportif bagi masyarakat Indonesia di Jerman Utara.
Konsulat Jenderal RI di Hamburg Renata Siagian menegaskan dibalik setiap angka, ada seseorang yang mungkin sedang berjuang tapi tidak tahu kepada siapa harus bercerita.
Hal ini diungkapkan Renata sebagai gambaran bahwa sebegitu kerasnya kehidupan seorang WNI di negara luar. Pesan itu menjadi semakin relevan di tengah besarnya tantangan kesehatan mental di berbagai belahan dunia.
Oleh Renata disebutkan lokakarya ini bertujuan membentuk ruang aman bagi peserta untuk mendengar dan didengar, memahami pengalaman satu sama lain, serta belajar bersama dalam suasana yang terbuka dan penuh empati.
Hal ini juga sejalan dengan komitmen KJRI Hamburg dalam memberikan pelindungan kepada WNI dan meningkatkan kualitas pelayanan publik di wilayah kerja.
“KJRI ingin menunjukkan bahwa saudara-saudara tidak sendirian. Negara hadir bagi lebih dari 7.100 WNI di Hamburg, Bremen, Niedersachsen dan Schleswig-Holstein. Disinilah pentingnya kolaborasi antara perwakilan RI, komunitas dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat dukungan terhadap kesehatan mental seorang WNI,” kata Renata.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang pertama kali diselenggarakan pada 1992 silam, menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran publik sekaligus mengikis stigma dan stereotip yang masih melekat terhadap hal tersebut.
Lokakarya berlangsung dalam dua sesi. Sesi ruang sadar yang difasilitasi oleh Bayu Prihandito dari Life Architekture, mengajak peserta untuk lebih mengenali diri, memahami rasa dan emosi, serta merefleksikan apa yang sedang dirasakan.
Melalui sesi ini, peserta memperoleh kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, memberi ruang bagi diri sendiri, dan membangun kesadaran terhadap kondisi emosional masing-masing.
Sedangkan sesi kolase untuk kesehatan mental yang dipandu oleh Nelden Djakababa-Gericke dari Kesmenesia membuka ruang bagi peserta untuk mengekspresikan perasaan, pengalaman serta makna personal dalam tulisan reflektif dan karya kolase.
“Kedua sesi tersebut mampu menghadirkan ruang aman bagi peserta untuk berekspresi, mendengarkan dan saling menguatkan, baik secara individu maupun dalam kelompok kecil. Peserta diajak membangun afirmasi positif sekaligus memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Keberanian untuk berbicara dan kesediaan untuk mendengar menjadi fondasi penting dalam penanganan isu kesehatan mental,” jelas Renata.
Secara umum, kegiatan memperoleh tanggapan positif baik dari peserta maupun fasilitator. Salah seorang peserta, Denka, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dan memberi ruang untuk berefleksi.
“Kita bisa refleksi diri kita untuk mempunyai kesehatan mental yang lebih baik. Kita tidak sendirian” ujarnya.
Semangat untuk terus membuka ruang tentang kesehatan mental juga disampaikan Nelden Djakababa-Gericke selaku fasilitator.
“Semoga ini menjadi awal untuk kita terus melanjutkan pembicangan mengenai kesehatan mental. Ini merupakan sesuatu yang bisa dilakukan secara berkelanjutan” tuturnya.
Lokakarya ini diikuti 40 orang yang berasal dari sejumlah kota di Jerman dan Belanda. Mereka hadir dengan cerita dan pengalaman masing-masing namun terhubung satu pesan sederhana bahwa ‘kita tidak sendirian’.
Sejalan dengan semanga KJRI Hamburg mengajak masyarakat Indonesia di Jerman untuk terus menumbuhkan kepedulian terhadap kesehatan mental, dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.
Rekat bersama merawat jiwa, menurut Renata karena menjaga kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama. Keberanian untuk berbicara, mendengar dan didengar menjadi penguat atas tantangan yang dihadapi di tanah rantau. –

