PANGKEP, UJUNGJARI– Tindakan berlebihan ditunjukkan warga sejak wabah covid-19 merebak. Bagaimana tidak orang meninggal dunia pun saat ini kerap dihubung-hubungkan dengan virus mematikan tersebut.
Kondisi inilah yang dialami keluarga almarhum WH (10) yang jenazah anaknya ditolak dua warga pulau untuk dikuburkan pada kedua pulau tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga dua pulau yang menolak jenazah bocah itu yakni warga di kampung halaman bocah ini di pulau Sabutung di desa Mattiro Kanja dan pulau Polewali di desa Mattiro Labangeng yang merupakan kampung halaman orang tua bocah yang meninggal dunia di rumah sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar ini, karena penyakit leukimia.
Penolakan warga untuk penguburan jenazah bocah ini dibenarkan para warga di pulau Sabutung desa Mattiro Kanja di kecamatan Liukang Tupabbiring Utara.
Beberapa warga di pulau Sabutung menolak karena almarhum ini merupakan pasien dari RSWS.
“Apalagi beredar informasi bahwa saat dirawat RS Wahidin, WH ini dirawat berdekatan dengan pasien covid-19. Makanya warga di desa Mattiro Kanja menolak untuk dikuburkan di pulau Sabutung,” kata beberapa warga Sabutung.
Kades Mattiro Kanja Muzakkir yang berusaha dihubungi tidak berhasil.
Konfirmasi masalah penolakan warga dua pulau ini dibenarkan ke Kapolsek Tupabbiring, AKP Aris Sumarsono.
“Kamis kemarin, jenazah ini sudah dikuburkan ditempat lain karena warga pulau Sabutung menolak dan awalnya warga pulau Polewali juga menolak, tetapi kemudian bersedia menerima lagi. Tetapi ada pihak keluarganya yang membawa ke kampung Majennang untuk dikebumikan, sehingga tidak ada lagi masalah,” jelas Aris.
Penolakan penguburan tidak hanya ditolak di kampung halamannya di Sabutung. Saat jenazah ini akan dikuburkan dikampung halaman orang tuanya di pulau Polewali desa Mattiro Labangeng, juga ditolak warga setempat dengan alasan jenazah ini dicurigai sebagai pasien yang meninggal dunia karena virus corona.
Kades Mattiro Labangeng, Musmuliadi yang dihubungi Jumat (3/4) menyatakan awalnya memang warganya di Pulau Polewali menolak karena menduga bocah ini meninggal dunia karena virus corona.
“Tetapi setelah saya konfirmasi ke pihak rumah sakit, ternyata pasien ini meninggal karena penyakit leukimia. Informasi inilah yang kemudian saya sampaikan ke warga kami bahwa anak ini meninggal dunia karena kanker darah dan bukan karena covid-19,” kata Musmuliadi.
Makanya warga kami tidak lagi menolak dan menerima jenazah anak ini untuk dikuburkan di pulau Polewali, lanjut Musmuliadi.
“Hanya saja ketika itu ada informasi bahwa jenazah itu terlanjur dibawa ke kampung Majennang untuk dikuburkan disana atas permintaan neneknya. Jadi warga kami bukan menolak,” pungkasnya. (udi)

