MASAMBA–Masyarakat di Desa Limbong, Kecamatan Rongkong, Luwu Utara sangat berterima kasih kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Soalnya, BUMN penyedia tenaga listrik sudah mengaliri listrik pada warga di lima desa di Kecamatan Rongkong pada Desember 2019 lalu. Selain Limbong, empat desa lainnya yang sudah dialiri listrik PLN di kecamatan ini adalah Desa Minanga, Desa Rinding Allo, Desa Marampa, dan Desa Pengkedekan.
Tokoh masyarakat Limbong, Pade mengatakan sejak Indonesia merdeka, barulah di pengujung 2019 itu masyarakat di desanya menikmati listrik PLN. Selama ini sebagian warga desa hanya menggunakan lampu minyak. Beberapa warga memasang obor di depan rumah untuk menerangi jalan. “Ada juga beberapa warga yang menggunakan genset. Tapi itu pun terbatas. Hanya beberapa jam saja di malam hari,” katanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pade mengatakan listrik merupakan kebutuhan mendasar bagi warga Desa Limbong. Tanpa listrik, kata dia, banyak aktivitas tidak bisa berjalan maksimal. Termasuk berkomunikasi dengan kerabat di Kota Masamba, ibu kota Luwu Utara atau kerabat di Kota Makassar. “Kalau handphone lowbat misalnya hanya bisa di-charge saat genset jalan. Hanya pada malam hari. Tetapi sejak listrik PLN masuk, handphone sudah tidak pernah low bat lagi. Sebab bisa di-charge setiap saat. Kan listrik sudah 24 jam,” katanya lagi.
Mantan Kepala Desa Limbong ini menceritakan sebelum listrik PLN yang 24 jam itu masuk di desanya, beberapa warganya mengeluh karena susah berkomunikasi dengan kerabatnya di kota. Padahal signal seluler di wilayahnya relatif bagus. Ia sendiri mengaku pernah beberapa hari telepon genggamnya tidak aktif karena malas mengisi baterai lewat listrik dari genset.
Yang paling terasa selama listrik PLN masuk ke Limbong adalah kerukunan hidup warga yang makin tinggi. Jika sebelumnya, kebanyakan warga sudah tidur usai salat isya, kini jam tidur mereka lebih molor. Setelah isya, beberapa warga masih banyak berkumpul di teras atau bercengkerama di pinggir jalan. Mereka berbincang soal apa saja. Terutama mengenai aktivitas mereka yang kebanyakan petani. Menurut Pade, tradisi ini sangat jarang dilakukan warga sebelum listrik PLN yang 24 jam itu masuk ke Limbong.
Itu semua terjadi karena lingkungan permukiman warga di Desa Limbong yang sudah terang benderang di malam hari. Tak ada lagi cahaya yang redup dari siar obor selama puluhan tahun. Anak-anak desa juga masih bisa bermain-main pada malam hari. Warga desa makin menikmati hidupnya dengan kehadiran listrik PLN yang 24 jam menyala itu.
Begitu juga dengan tindakan kriminalitas. Sejak menjadi terang benderang karena listrik PLN, warga desa lebih tenang. Tidak ada lagi aksi kriminalitas seperti pencurian ternak dan komoditas hasil pertanian. Memang menurut Pade, sejak dahulu desa ini dikenal desa aman dan nyaris tak pernah ada aksi kriminalitas. Tetapi sejak kehadiran listrik PLN, warga desa makin tenang karena kampungnya sudah terang di malam hari.
Pade juga menceritakan sejarah masuknya listrik PLN di desanya. Ia mengatakan perjuangan memasukkan listrik ke wilayahnya cukup berliku juga. Aspirasi warga desa sudah berulang-ulang kali disampaikan. Baik melalui wakil rakyat di DPRD Luwu Utara maupun wakil rakyat di DPRD Sulsel. jawaban yang selalu diterima warga Desa Limbong adalah bersabar dan sedang dalam proses.
“Tetapi Alhamdulillah PLN bisa memenuhi permintaan dan kebutuhan masyarakat Limbong di akhir 2019 kemarin. Mudah-mudahan ketersediaan listrik ini bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat di desa kami,” katanya lagi.
Bagi warga Desa Limbong, listrik PLN yang beroperasi 24 jam ini merupakan anugerah tersendiri di akhir tahun 2019. Apalagi peresmian teralirinya listrik di Limbong dan empat desa lainnya di Kecamatan Rongkong itu dihadiri langsung Gubernur Sulawesi Selatan, Prof Dr HM Nurdin Abdullah. Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani juga hadir. Acara peresmiannya digelar di kantor Kecamatan Rongkong, 31 Desember 2019. Karena seremoninya digelar di pengujung tahun, aliran listrik ini seolah menjadi kado malam tahun baru bagi warga Desa Limbong.
Gubernur Sulawesi Selatan, HM Nurdin Abdullah yang meresmikan pengunaan listrik pedesaan di Kecamatan Rongkong mengatakan dengan masuknya jaringan listrik ini, satu persoalan selesai. Menurut dia, perlahan, desa-desa yang terisolasi di Luwu Utara akan maju jika listrik sudah tersedia. Ia menyampaikan apresiasi kepada PLN yang bersedia membangun jaringan listrik di Rongkong meskipun kontur medannya rawan longsor.
Tak Terisolasi Lagi
Ketersediaan listrik di Desa Limbong dan desa lainnya di Kecamatan Rongkong juga berdampak positif pada aksesibilitas ke wilayah ini. Bus perintis Damri bantuan Balai Transportasi Daerah (BTD) Wilayah XIX Sulselbar, resmi beroperasi sejak Minggu, 24 Januari 2021. Bus ini melayani rute Masamba-Sabbang-Rongkong, dengan tarif Rp30.000 per orang untuk sekali jalan. Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman meluncurkan secara resmi operasional bus tersebut, di Desa Limbong, Kecamatan Rongkong, didampingi Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani.
Dalam launching tersebut, Andi Sudirman bersama Indah Putri Indriani, menjadi penumpang pertama bus perintis Damri yang berangkat dari Kantor Bupati Luwu Utara menuju Rongkong. Menempuh jarak 60 km dari Masamba ke Rongkong, Wagub Sulsel dan Bupati Lutra menjajal kemampuan bus ini di medan pegunungan yang terjal.
“Alhamdulillah, Sabbang-Rongkong-Seko yang telah dirintis melalui bantuan keuangan telah mengubah dari wilayah terisolasi tanpa listrik dan akses roda empat menjadi aspal dan akses bus perintis subsidi hingga Rongkong, untuk tahap pertama,” katanya.
Desa Limbong dan beberapa desa di Rongkong sebelumnya memang masuk kategori daftar desa terisolasi di Sulawesi Selatan. Tertinggal karena aksesnya terbatas dan juga belum dialiri listrik. Tetapi kini Desa Limbong perlahan bangkit dan tidak lagi menjadi desa terisolasi. Apalagi Limbong menjadi poros utama menuju Kecamatan Seko yang kini pembangunannya juga digenjot. (fachruddin palapa)

