MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Sejumlah elemen warga kecamatan Biringkanaya, kota Makassar, menilai kinerja camat Biringkanaya Benyamin B. Turupadang sangat buruk. Bahkan, ia dinilai tidak pro kepada masyarakat.

Koordinator Aliansi Pemuda Kota Makassar Sektor Kecamatan Biringkanaya, Lingga, mengatakan, kinerja camat Biringkanaya patut dipertanyakan. Selain dari segi pelayanan publik yang cenderung menurun, dia juga tidak pro terhadap kepentingan warga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Banyak keluhan warga Biringkanaya tidak direspon dengan baik, apalagi terkait masalah lingkungan. Dia lebih memilih dan berpihak ke pengusaha daripada kepentingan masyarakat.

Lingga mencontohkan perumahan Landmark Sudiang. Kehadiran perumahan elit di daerah itu sangat berdampak ke lingkungan sekitarnya. Daerah itu merupakan rawan banjir, dan diperparah lagi dengan adanya perumahan Landmark.

“Sudah sering kali kami keluhakan pembangunan perumahan Landmark ke pak camat dan lurah Sudiang, agar pihak daveloper membuat drainase induk di daerah itu, supaya tidak banjir, tapi sampai sekarang tidak ada responnya,” ujar Lingga.

Ironisnya, camat Biringkanaya justru berpihak dan membela pihak daveloper. Dia tidak sama sekali pro terhadap kepentingan masyarakat sekitar. Buktinya, sampai sekarang ini terjadi pembiaran. “Camat mestinya pro warga, jangan selalu bela-bela daveloper. Ini demi kemaslahatan orang banyak,” ketusnya.

“Bayangkan pak, perumahan itu
menggunakan alcon/pompa sedot sebagai solusi pengganti saluran air, parah,” ucap Lingga kepada media ini.

Lingga menyebut bahwa warga sekitar perumahan Landmark ini sudah sejak 2020 selalu menjadi korban banjir di setiap musim penghujan. Itu akibat tidak layaknya ataupun tidak berfungsinya dengan baik drainase dari perumahan tersebut.

“Berdasarkan laporan yang kami terima dari warga sekitar Landmark bahwa drainase perumahan tersebut sengaja di tutup atau dirusak oleh oknum warga yang tidak bertanggungjawab, akibatnya drainase tidak berfungsi dengan baik,” pungkasnya.

“Sudah beberapa kali di adakan mediasi, bahkan tiap pergantian lurah selalu ada pertemuan antara pihak-pihak warga yang berselisih paham tapi tidak pernah ada solusi atau kepastian yang di berikan kepada warga sekitar Landmark.
Saya sebgai perwakilan dari pada teman-teman pemuda di Biringkanaya yang peduli akan hal ini sudah mempertanyakan persoalan ini kepada kepala kecamatan Biringkanaya, tapi respon dan jawaban yang diberikan juga terkesan masif dan tidak memberikan solusi,” katanya.

“Harusnya persoalan ini tidak perlu memakan waktu lama, sampai berminggu-minggu bahkan sudah mau 1 bulan ini semenjak pak camat dengan pak lurah ketemu dengan salah satu perwakilan warga, tapi kok masalah ini tidak ada juga solusi ataupun kepastian yang di berikan kepada warga. Kasihan warga yang tinggal di sekitar Landmark.
Kalau masalah drainase seperti ini saja tidak mampu di selesaikan bagaimana dengan persoalan yang lain?” papar Linggar.

“Pak Camat sebaiknya mundur saja, kami butuh pemimpin wilayah yang pro masyarakat Biringkanaya,” katanya.

Sementara itu, Camat Biringaknaya Benyamin mengaku sudah melakukan mediasi anatar Landmark dengan warga. “Sudahmi itu kita mediasi, jangan dulu ditulis. Atau tunggu, saya hubungi dulu Lingga apa maunya,” singkat Beni sapaan akrabnya.  (drw)