HO CHI MINH CITY,UJUNGJARI.COM–Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi nasional, tetapi juga bahasa nilai, budaya, dan cinta yang mulai diperhitungkan dalam percaturan akademik global.

Dalam konferensi internasional The 11th International Conference on Community Development (ICCD-11) yang diselenggarakan di Ho Chi Minh City Open University, Vietnam, peran strategis Bahasa Indonesia diperkenalkan secara mendalam oleh Dr Muhsyanur, M.Pd., M.Psi., M.M., dosen dari Universitas Islam As’adiyah Sengkang, Sulawesi Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dr Muhsyanur mempresentasikan makalah berjudul: “Reconstruction of the Indonesian Language in a Love-Based Curriculum: Building Love and Humanist Values in a Religious Society.”

Makalah ini menempatkan Bahasa Indonesia sebagai medium utama dalam pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta, yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, kemanusiaan, dan keadaban dalam pembelajaran.

Menurutnya, Bahasa Indonesia berfungsi bukan hanya sebagai bahasa resmi negara, tetapi juga sebagai bahasa penyampai nilai dan emosi, yang dapat menjadi jembatan untuk membentuk generasi religius yang cinta damai, empatik, dan berakhlak mulia.

“Bahasa Indonesia memiliki struktur, diksi, dan kekayaan budaya yang sangat mendukung proses pendidikan karakter. Ia bukan hanya alat berpikir, tetapi juga alat merasakan, memuliakan sesama, dan menyampaikan pesan cinta,” ungkap Dr. Muhsyanur dalam sesi diskusi yang dipadati akademisi dari berbagai negara.

Konsep Kurikulum Cinta yang ia bawa dalam makalahnya bersumber dari pemikiran Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Imam Besar Masjid Istiqlal-Menteri Agama RI, penggagas Deklarasi Istiqlal (5 September 2024), yang menyerukan pentingnya cinta sebagai fondasi seluruh aspek kehidupan, termasuk sistem pendidikan.

Penelitian yang dipaparkan dilakukan dengan pendekatan kualitatif di sejumlah lembaga pendidikan Islam dan pesantren di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika Bahasa Indonesia digunakan secara sadar untuk menyampaikan nilai cinta, empati, toleransi, dan spiritualitas, maka proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyentuh sisi kemanusiaan siswa.

Kehadiran Bahasa Indonesia dalam forum ICCD-11 menjadi penanda bahwa bahasa ini bukan hanya alat diplomasi atau identitas nasional, tetapi juga mampu menjadi bagian dari narasi global tentang pendidikan damai, inklusif, dan berkelanjutan.

Universitas Islam As’adiyah Sengkang melalui partisipasi aktif dosennya menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia mampu menembus ruang-ruang internasional dengan membawa pesan moral dan spiritual yang kuat. Sebagai kampus berbasis pesantren, As’adiyah membuktikan bahwa kekuatan lokal bisa menjadi kontribusi global. (din)