MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Menjelang pemilihan Ketua RT dan RW di Kota Makassar, muncul sorotan terhadap motivasi sebagian calon yang dianggap maju bukan karena niat mengabdi, melainkan ikut-ikutan atau terpengaruh kelompok tertentu.
Sejumlah pemerhati sosial menilai, calon Ketua RT dan RW seharusnya terlebih dahulu melakukan introspeksi diri sebelum memutuskan maju dalam pemilihan. Jabatan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan tanggung jawab besar dalam melayani masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau memang punya niat membangun lingkungan dan melayani warga, silakan maju. Tapi kalau hanya karena ikut-ikutan kelompok tertentu, sebaiknya introspeksi dulu,” ujar Andi Baso pemerhati pemerintahan di Makassar, Rabu (29/10).
Menurutnya, calon Ketua RT dan RW idealnya adalah sosok yang ditokohkan di lingkungannya, dekat dengan masyarakat, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap kondisi sosial dan kebersihan lingkungan.
“RT dan RW itu pekerjaan mulia. Mereka menjadi ujung tombak pelayanan pemerintah di tingkat paling bawah. Jangan karena termotivasi dengan gaji atau anggaran program kelurahan, lalu mau jadi RT atau RW,” tegasnya.
“Sekarang ini kan muncul fenomena, ada kelompok tertentu yang mau kuasai jabatan RT RW se kota Makassar. Mereka bagi-bagi wilayah untuk merebut RT RW. Kalau mereka punya kapasitas saya kira tidak masalah, tapi kalau ikut-ikutanji karena merasa masuk dalam tim pilkada 2024, itu parah,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika seseorang terpilih karena niat baik dan pengabdian, tentu akan menjadi kebanggaan tersendiri. Namun jika hanya ikut-ikutan atau mengejar keuntungan pribadi, justru akan menimbulkan rasa malu bila kalah dalam pemilihan.
“Kalau menang dan terpilih, bagus karena bisa mengabdi. Tapi kalau kalah, malu, karena dari awal tidak punya niat tulus,” pungkasnya. (**)

