GOWA, UJUNGJARI.COM — Bimbingan teknik (Bimtek) Literasi Informasi yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusarsip) Kabupaten Gowa pada Selasa (4/11) siang menyedot perhatian peserta.

Meski hanya membatasi hingga 50 orang peserta saja, namun animo masyarakat cukup tinggi. Panitia pelaksana menutup list peserta di angka 50, sementara hampir seratusan masyarakat berbagai unsur antara lain pegiat literasi, guru, mahasiswa dan pelajar serta masyarakat umum menunggu bisa diikutkan jadi peserta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kabid Pengembangan dan Pembinaan Sumber Daya Perpustakaan Disperpusarsip Gowa Aswar Said yang juga selaku penanggung jawab kegiatan bimtek menjelaskan, bimtek ini memang disengaja dilaksanakan sebagai dukungan Disperpusarsip kepada Pemkab Gowa untuk mewujudkan masyarakat paham literasi dan paham.mengelola informasi.

Semua ini kata Aswar merupakan implementasi dari program Gowa Cerdas atau Gowa Caradde’ yang menjadi program unggulan Bupati dan Wakil Bupati Gowa saat ini.

Salah satu narasumber dari Widyaiswara BPSDM Sulsel, yakni Dr Idrus meminta para peserta bimtek untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang diperoleh dari medsos dan lainnya seperti grup WhatsApp dan sejenisnya.

“Harus ditelusuri kebenarannya dulu, cermati dan analisis sebelum dishare (bagikan) kembali ke medsos. Inilah tujuan dari dilakukannya bimtek ini. Yakni peserta diajari bagaimana bisa menjadi paham cara mengelola medsos dan mengolah setiap informasi yang masuk, ” kata Dr Idrus.

Dalam materinya berjudul ‘Membangun Kecakapan Literasi Informasi di Era Digital’, professional literacy ini mengajak. Masyarakat khususnya peserta untuk paham cara mengolah informasi yang ada.

Menurutnya, banyak informasi sesat yang beredar di medsos namun kadang masyarakat tidak mericek kebenarannya dulu dan langsung menshare ke medsos.

“Begitu ditanya apa yang diketahuinya soal informasi itu, masyarakat hanya bilang tidak tahu saya cuma share dari medsos orang. Nah, hal-hal seperti inilah yang perlu ditahu masyarakat. Ricek dulu, jangan langsung share informasi yang terlihat benar tapi seratus persen tidak benar alias hoaks, ” papar Dr Idrus.

Dia pun mengajak peserta untuk jadikan bimtek ini sebagai momen meneguhkan komitmen membangun ekosistem literasi yang inklusif, berbasis kolaborasi dan berorientasi pada kemajuan masyarakat.

Bimtek Literasi Informasi ini diikuti puluhan pustakawan, pegiat literasi, guru dan pengelola perpustakaan sekolah maupun desa kelurahan.

“Kita semua harus paham. Dan bimtek ini lebih memperkuat kemampuan kita untuk belajar mengenali kebutuhan informasi, menelusuri informasi dengan cermat, mengevaluasi sumbernya, menganalisis isinya dan kemudian menyebarkannya kembali dengan cara yang bertanggung jawab, ” imbuhnya.

Salah seorang peserta dari kalangan pendidik yakni Marwan (Plt Kepala SMPN 4 Tombolopao) mengaku jika kegiatan ini sangat tepat menjadi sosialisasi dan edukasi ke masyarakat.

“Alhamdulillah Bimtek Literasi Informasi ini sangat bermanfaat untuk pengembangan kemampuan dalam bagaimana meningkatkan minat literasi dan memilah milah informasi yang benar dan yang tidak. Dan bagi saya, pengetahuan masyarakat khususnya pelajar tentang literasi informasi ini masih minim. Mereka masih kurang memahami cara dan masih belum mampu memahami manfaatnya. Saran saya, perlu ada bimtek literasi informasi berkelanjutan ke sekolah-sekolah agar para siswa dapat meningkatkan minat literasi dan mampu menyaring informasi di medsos, ” kata Marwan.

Hal senada dikatakan Indriani Ananda (Pustakawan SMPN 1 Bontomarannu). Menurut Indriani, kegiatan bimtek ini harus sering dilaksanakan dan mengundang pustakawan-pustakawan di sekolah supaya ilmu pustakawan bisa terupdate terus selain melihat informasi di medsos. –