MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Rangkaian peringatan Milad ke-50 Pesantren IMMIM kembali diisi dengan kegiatan bernilai sejarah dan spiritual. Dalam pertemuan Majelis IAPIM Jabodetabek yang digelar akhir pekan ini, para alumni berkumpul di kediaman Idham Ardiansyah. Penyelenggara menyampaikan apresiasi atas penyambutan tuan rumah yang dinilai memberikan jamuan yang sangat luar biasa kepada para hadirin majelis melalui penerimaan yang begitu baik.

Pada kesempatan tersebut, Majelis IAPIM Jabodetabek resmi memulai tradisi pembacaan manaqib pendiri Pesantren IMMIM, Abuna AGH. Fadeli Luran, melalui naskah berjudul “Ayahanda Ribuan Anak.” Pembacaan perdana dibawakan oleh Tandra Majid, alumni Pesantren IMMIM Putri Minasate’ne Pangkep angkatan 1989.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kisah yang dipaparkan menggambarkan perjalanan panjang kehidupan Abuna, terutama masa kecilnya yang penuh keterbatasan. Disebutkan bahwa Abuna menempuh pendidikan agama secara mandiri.

“Di dusun Mamba, 2 km dari rumah tempat tinggal beliau, abuna belajar ilmu tajwid hingga mampu membaca Alquran dengan tajwid yang benar dan bacaan yang merdu,” demikian kutipan dari manaqib.

Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 menandai awal karier militer AGH. Fadeli Luran. Ketika Belanda tidak mengakui proklamasi kemerdekaan, beliau memutuskan untuk berjuang dengan bergabung ke pasukan Tentara RI Persiapan Sulawesi (TRIPS) yang dipimpin oleh Kolonel Kahar Muzakkar.

Pada tahun 1948, beliau bersama tiga rekannya bersepakat menuju Yogyakarta, yang kala itu menjadi pusat perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Setelah mengikuti pelatihan, Abuna dilantik sebagai Letnan Dua dan ditugaskan sebagai staf logistik.

Perjalanan menuju garis depan tidak pernah mudah. Mereka harus berlayar dari Kalimantan, berlabu di Surabaya, dan memulai perjalanan darat yang berbahaya karena masih banyak wilayah yang dikuasai Belanda, sehingga beberapa kali ditahan dan diperiksa. Dalam kisah itu diceritakan bahwa “tiga kali abuna menjadi tawanan perang, belum terhitung penahanan akibat aktivitas beliau dalam syariah Islam.”

Karier militer Abuna berakhir pada 1950, ketika ia tertembak di bagian bahu dan paha dalam operasi penumpasan pemberontakan Andi Azis di Makassar. Rentetan pengalaman tersebut menjadi fondasi ketangguhan dan visi besar yang kelak melahirkan Pesantren IMMIM yang kini telah memasuki usia setengah abad.

“Alhamdulillah pada majelis IAPIM Jabodetabek pada hari ini kita memulai tradisi pembacaan kisah hidup (manaqib) abuna AGH. Fadeli Luran berjudul ‘Ayahanda Ribuan Anak’ yang semoga dengan membaca kisah hidupnya kita dapat lebih mengenal sosok pendiri Pesantren IMMIM dan mengambil teladan dari kisah hidupnya yang dengan segala keterbatasan dan ujian yang berat mampu mendirikan sebuah pesantren yang hingga saat ini telah menjadi rumah bagi kita semua,” demikian harapan dari Khadimul Majelis.

Dengan terselenggaranya majelis ini, diharapkan semangat keteladanan Abuna AGH. Fadeli Luran semakin mengakar di kalangan alumni, sekaligus memperkuat ukhuwah dalam menyongsong perjalanan Pesantren IMMIM pada usia setengah abad dan seterusnya. (rs)