TAKALAR, UJUNGJARI — Perjalanan panjang yang seharusnya berakhir dengan kepulangan ke kampung halaman hampir berubah menjadi tragedi.

Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kabupaten Takalar, Parawangsa, bersama empat penumpang lainnya, nyaris meregang nyawa saat mobil yang mereka tumpangi hampir terjun ke jurang di wilayah Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, Senin pagi (19/1/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mobil Toyota Rush bernomor polisi DD 1281 CG yang melaju dari Palu menuju Takalar mendadak oleng ketika melintasi jalur rawan kecelakaan. Dalam hitungan detik yang menegangkan, kendaraan hampir meluncur ke jurang sedalam puluhan meter. Tak ada jeritan, hanya kepanikan yang membeku—hingga sebuah pipa saluran air di tepi jalan menahan laju mobil tersebut.

Takdir seolah memberi kesempatan kedua. Meski bodi kendaraan rusak cukup parah, Parawangsa dan seluruh penumpang keluar dari mobil tanpa luka serius.

“Kami sebelumnya dari Donggala, Palu, usai mengantar pengantin. Sopir diduga mengantuk,” tutur Parawangsa dengan nada lega saat dikonfirmasi.

Benturan keras membuat mobil tak lagi bisa melanjutkan perjalanan. Di tengah kondisi darurat itu, sebuah mobil tronton yang melintas menjadi penyelamat. Kendaraan tersebut membawa mobil yang rusak sekaligus para penumpang menuju Makassar.

“Alhamdulillah kami semua selamat. Sekarang melanjutkan perjalanan bersama-sama, sambil membawa mobil yang mengalami kecelakaan,” ucapnya.

Insiden ini bukan sekadar kabar kecelakaan, tetapi pengingat sunyi bahwa kelelahan di jalan panjang bisa menjadi musuh paling berbahaya. Di jalur sepi dan rawan, satu detik kelengahan nyaris merenggut segalanya—namun pagi itu, keselamatan masih berpihak. (*)