JAKARTA, UJUNGJARI.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan adanya awan tebal jenis Cumulonimbus (Cb) di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, saat pesawat ATR yang terlibat kecelakaan tengah menuju Bandara Sultan Hasanuddin pada 17 Januari 2026 lalu.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis meteorologi, kondisi cuaca secara umum diperkirakan relatif stabil. Namun demikian, masih ditemukan keberadaan awan Cb di wilayah pendekatan pendaratan yang berpotensi membahayakan penerbangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Cuaca diperkirakan relatif stabil, namun masih terdapat awan Cb di wilayah pendekatan saat pendaratan yang perlu diwaspadai,” ujar Teuku Faisal Fathani dalam rapat bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Ia menyampaikan, informasi tersebut diperoleh dari hasil analisis laporan meteorologi bandara serta citra satelit cuaca.
Awan Cumulonimbus dikenal dapat menimbulkan cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, angin kencang, turbulensi, hingga petir, yang berisiko terhadap keselamatan penerbangan.
BMKG menegaskan akan terus meningkatkan pemantauan dan penyampaian informasi cuaca penerbangan guna mendukung keselamatan operasional pesawat, khususnya di wilayah dengan kondisi geografis dan cuaca yang dinamis seperti Sulawesi Selatan. (**)

