JAKARTA, UJUNGJARI.COM — Setahun lebih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, peluang Prabowo Subianto untuk kembali maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 dinilai sangat besar.
Penilaian tersebut disampaikan pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Jamiluddin, sejumlah hasil survei dari berbagai lembaga menempatkan elektabilitas Prabowo di posisi teratas dibandingkan tokoh elite politik nasional lainnya. Bahkan, Prabowo disebut unggul cukup jauh dari sebagian besar pesaing potensialnya.
“Elektabilitas yang paling dekat dengan Prabowo saat ini hanya Anies Baswedan, sementara tokoh lain seperti Ganjar Pranowo dan figur elite lainnya berada jauh di bawah,” ujarnya.
Selain faktor elektabilitas, Jamiluddin menyoroti tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo yang tercatat tinggi dalam berbagai survei.
Kondisi ini dinilai menjadi modal politik penting yang dapat memperkuat dukungan partai-partai politik dalam koalisi pemerintahan untuk kembali mengusung Prabowo pada Pilpres 2029.
Beberapa partai politik, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN), bahkan disebut telah menyuarakan dukungan secara terbuka terhadap kemungkinan Prabowo maju kembali dalam kontestasi lima tahunan tersebut.
Jamiluddin juga menilai sejumlah pernyataan politik Prabowo yang menegaskan kesiapan menghadapi kontestasi politik ke depan sebagai sinyal kuat.
“Pernyataan tersebut semakin menguatkan sinyal bahwa Prabowo akan kembali maju dalam Pilpres 2029,” katanya.
Meski demikian, peta politik nasional dinilai masih sangat dinamis. Jamiluddin menilai tokoh lain seperti Anies Baswedan tetap memiliki peluang kompetitif, terutama jika terjadi perubahan terhadap ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold.
Sejumlah survei menunjukkan Anies berada di posisi kedua dengan elektabilitas yang cukup signifikan.
Dengan Pilpres 2029 yang masih empat tahun lagi, Jamiluddin menegaskan bahwa seluruh kekuatan politik masih memiliki ruang luas untuk membangun strategi, konsolidasi, dan aliansi.
“Wacana ini menjadi bagian dari dinamika politik nasional yang akan terus berkembang seiring mendekatnya kontestasi,” pungkasnya. (**)

