MAKASSAR, UJUNGJARI.COM – Momentum peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang jatuh pada 21 Februari 2026 dimanfaatkan Forum Komunitas Hijau (FKH) untuk menyampaikan peringatan serius terkait potensi darurat sampah di Kota Makassar, terutama di bulan suci Ramadan.
Ketua FKH, Achmad Yusran, mengungkapkan bahwa pihaknya memprediksi akan terjadi lonjakan volume sampah sebesar 20 hingga 30 persen selama bulan suci ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peningkatan tersebut diperkirakan didominasi oleh sampah kemasan dari aktivitas pasar takjil serta sisa makanan akibat meningkatnya konsumsi masyarakat.
“Setiap Ramadan, produksi sampah cenderung meningkat signifikan. Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi ini bisa menimbulkan persoalan lingkungan yang lebih serius,” ujarnya.
Perilaku dan Sistem Jadi Akar Masalah
FKH menilai persoalan sampah di Makassar tidak hanya soal volume, tetapi juga menyangkut perilaku warga dan sistem pengelolaan yang belum optimal.
Achmad Yusran menyoroti bahwa kesadaran masyarakat dalam membuang dan memilah sampah masih rendah.
Menurutnya, tindakan membuang sampah pada tempatnya masih menjadi pengecualian, bukan kebiasaan.
Selain itu, tingkat pemilahan sampah dari rumah tangga disebut masih sangat minim, yakni hanya berkisar 10–15 persen.
Kondisi ini memperberat beban sistem pengelolaan sampah kota yang dinilai belum berjalan maksimal.
“Tanpa perubahan perilaku, sebaik apa pun sistem yang dibangun tidak akan efektif,” tegasnya.
Tekanan Ekologis Kian Meningkat
FKH juga menyoroti tekanan ekologis yang semakin terasa di Makassar. Selain persoalan sampah, berkurangnya ruang terbuka hijau dan meningkatnya suhu permukaan kota (urban heat island) memperparah kondisi lingkungan, khususnya di kawasan permukiman padat.
Kombinasi antara tingginya produksi sampah, minimnya ruang hijau, dan peningkatan suhu kota dinilai dapat berdampak pada kualitas hidup warga dalam jangka panjang.
Seruan Aksi di Momentum Ramadan
Dalam pernyataannya, FKH mengajak masyarakat menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum pengendalian diri, tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam mengurangi produksi sampah dan membiasakan pemilahan dari rumah.
FKH juga mendorong pemerintah kota untuk memperkuat pengawasan, menambah fasilitas pemilahan sampah, serta menggandeng dunia usaha dalam menciptakan sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan.
Menurut Yusran, inti dari penyelesaian persoalan ini terletak pada perubahan perilaku warga. Kota Makassar, kata dia, membutuhkan aksi nyata dan kolaborasi semua pihak, bukan sekadar slogan.
Dengan peringatan HPSN 2026 ini, FKH berharap kesadaran kolektif masyarakat dan pemangku kebijakan semakin menguat demi mewujudkan Makassar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (Rls)

