MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Sejumlah orang tua murid di SDI Tamalanrea 2, kawasan BTP, Kota Makassar, mengeluhkan dan mempertanyakan adanya pungutan sumbangan pembangunan musala yang dinilai tidak transparan.
Para orang tua menyoroti proses penggalangan dana yang disebut tidak melibatkan pengurus komite sekolah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka juga mempertanyakan penggunaan rekening pribadi salah satu guru sebagai tempat penampungan dana sumbangan.
“Harusnya dilibatkan komite sekolah. Kenapa juga minta sumbangan pakai rekening pribadi guru?” ujar salah satu orang tua murid yang enggan disebutkan namanya, Senin (2/3).
Menurutnya, pembangunan fasilitas ibadah seperti musala merupakan hal yang baik dan patut didukung. Namun, mekanisme pengumpulan dana harus dilakukan secara terbuka dan sesuai prosedur, termasuk melalui pembahasan bersama komite sekolah sebagai representasi orang tua murid.
Orang tua murid lainnya menilai permintaan sumbangan tersebut terkesan sepihak. Mereka khawatir jika tidak ada pengawasan dan keterlibatan komite, pengelolaan dana bisa menimbulkan kecurigaan dan spekulasi di tengah masyarakat.
“Mestinya pihak sekolah duduk bersama dengan komite membahas pembangunan musala. Harus disosialisasikan dulu, termasuk anggarannya harus dimusyawarahkan,” tegasnya.
Para orang tua berharap pihak sekolah dapat memberikan klarifikasi resmi terkait rencana pembangunan musala, termasuk rincian anggaran, mekanisme pengumpulan dana, serta dasar hukum pungutan tersebut.
Kepala SDI Tamalanrea 2 BTP, Suhardi, angkat bicara terkait polemik sumbangan pembangunan musala yang dikeluhkan sejumlah orang tua murid.
Saat dikonfirmasi, Senin (2/3), Suhardi menegaskan bahwa pihak sekolah belum menerima sumbangan resmi untuk pembangunan musala tersebut.
“Belum ada sumbangan musala yang kami terima dari orang tua murid. Panitianya juga baru terbentuk kemarin,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui sudah ada beberapa orang tua murid yang memberikan sumbangan secara sukarela.
Untuk sementara, dana tersebut ditampung di rekening masing-masing guru wali kelas sebelum nantinya diserahkan kepada panitia pembangunan.
“Sudah ada beberapa orang tua murid yang menyumbang dan untuk sementara ditampung ke rekening guru wali kelas masing-masing. Nanti sumbangan itu akan diserahkan ke panitia,” jelasnya.
Terkait tidak dilibatkannya pengurus komite sekolah dalam proses penggalangan dana, Suhardi menyebut masa kepengurusan komite sebelumnya telah berakhir.
“Kenapa kita tidak melibatkan pengurus komite, karena masa kepengurusan komitenya sudah berakhir. Kita baru mau fasilitasi membentuk pengurus komite yang baru,” terangnya. (drw)

