JAKARTA, UJUNGJARI.COM — Suhu udara di Tanah Suci yang mencapai 37 hingga 39 derajat Celsius menjadi perhatian serius dalam operasional penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriyah/2026 Masehi.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengimbau jemaah Indonesia untuk lebih menjaga kondisi fisik di tengah cuaca ekstrem tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Memasuki hari ke-16 operasional haji, pergerakan jemaah dari Tanah Air menuju Arab Saudi hingga mobilitas antar kota seperti Madinah dan Makkah tetap berjalan lancar dan tertib. Namun, faktor cuaca panas dinilai menjadi tantangan utama yang harus diantisipasi seluruh jemaah.
Juru Bicara Kemenhaj, Suci Annisa, menegaskan bahwa kondisi suhu tinggi berpotensi memengaruhi kesehatan jemaah, terutama bagi lansia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan.
“Kami mengingatkan jemaah untuk mengatur aktivitas sesuai kemampuan, tidak memaksakan diri, memperbanyak istirahat, serta menjaga asupan cairan agar tidak mengalami dehidrasi,” ujar Suci.
Ia juga meminta jemaah untuk menghindari aktivitas di luar ruangan pada siang hari jika tidak mendesak, serta selalu menggunakan pelindung seperti payung, topi, atau kacamata hitam saat beraktivitas di bawah terik matahari.
Dari sisi layanan kesehatan, Kemenhaj mencatat hingga saat ini sebanyak 12.725 jemaah menjalani rawat jalan, 144 jemaah dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan 232 jemaah dirawat di rumah sakit Arab Saudi. Sebanyak 70 jemaah masih dalam perawatan.
“Cuaca panas menjadi salah satu faktor risiko gangguan kesehatan seperti kelelahan, dehidrasi, hingga heatstroke. Karena itu, kami siagakan layanan kesehatan di kloter, sektor, hingga fasilitas rujukan,” jelasnya.
Kemenhaj juga memastikan petugas kesehatan terus memberikan edukasi kepada jemaah terkait pola hidup sehat selama di Tanah Suci, termasuk pentingnya konsumsi air putih, menjaga pola makan, serta mengenali gejala awal gangguan kesehatan akibat panas.
Selain itu, jemaah diminta tidak ragu melapor kepada petugas kesehatan apabila mengalami keluhan sekecil apa pun.
Di tengah kondisi cuaca panas, proses ibadah tetap berjalan dengan pendampingan petugas, termasuk bagi jemaah yang melaksanakan umrah wajib maupun ibadah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.
Kemenhaj menegaskan bahwa kolaborasi antara jemaah, petugas, dan pembimbing menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan dan kelancaran ibadah di tengah tantangan cuaca ekstrem di Tanah Suci.
“Keselamatan jemaah adalah prioritas utama. Dengan disiplin menjaga kesehatan dan mengikuti arahan petugas, diharapkan seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan khusyuk,” pungkas Suci. (**)

