JAKARTA, UJUNGJARI.COM — Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah⁠ terus memperkuat transformasi digital dalam penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Langkah ini dilakukan guna meningkatkan kualitas layanan, pengawasan, hingga percepatan penanganan berbagai kebutuhan jemaah Indonesia di Tanah Suci.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, mengatakan digitalisasi menjadi bagian penting dalam menghadirkan layanan haji yang lebih cepat, responsif, terukur, dan berbasis data.

“Hari ini kita memasuki hari ke-22 masa operasional penyelenggaraan ibadah haji. Secara umum, seluruh layanan berjalan dengan baik, mulai dari pemberangkatan di Tanah Air, kedatangan di Arab Saudi, akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga pembinaan ibadah,” ujar Maria dalam keterangan resmi di MCH Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Berdasarkan data operasional terbaru, sebanyak 359 kelompok terbang (kloter) dengan total 138.879 jemaah dan 1.433 petugas telah diberangkatkan menuju Arab Saudi.

Sementara itu, proses perpindahan jemaah dari Madinah menuju Makkah juga terus berlangsung secara bertahap. Hingga kini, tercatat 273 kloter yang membawa 105.360 jemaah dan 1.092 petugas telah tiba di Makkah.

Untuk kedatangan jemaah gelombang kedua melalui Bandara Internasional King Abdulaziz, sebanyak 84 kloter dengan 32.009 jemaah serta 337 petugas telah tiba dan menjalani tahapan layanan operasional di Arab Saudi.

Selain jemaah reguler, sebanyak 6.018 jemaah haji khusus juga dilaporkan telah berada di Arab Saudi untuk menjalankan rangkaian ibadah sesuai jadwal masing-masing.

Dalam mendukung pelayanan dan perlindungan jemaah, Kementerian Haji dan Umrah mengoptimalkan platform digital “Kawal Haji”. Aplikasi tersebut memungkinkan jemaah maupun petugas menyampaikan laporan, informasi, hingga kendala layanan selama berada di Tanah Suci.

Menurut Maria, setiap laporan yang masuk melalui platform tersebut dapat dipantau dan ditindaklanjuti lebih cepat oleh petugas sesuai kewenangannya di lapangan.

Selain Kawal Haji, pemerintah juga memperkuat Command Center Haji 2026 sebagai pusat kendali internal penyelenggaraan haji.

Sistem ini digunakan untuk memantau berbagai aspek layanan secara terintegrasi, mulai dari pergerakan jemaah, data kloter, akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga berbagai informasi lapangan yang membutuhkan respons cepat.

“Dengan sistem ini, pengawasan tidak lagi hanya dilakukan secara manual, tetapi berbasis data dan informasi yang terintegrasi. Tujuannya agar setiap layanan dapat dipantau lebih dekat dan setiap kendala dapat segera direspons secara cepat dan tepat,” jelasnya.

Menjelang fase puncak haji, pemerintah juga mengimbau seluruh jemaah untuk menjaga kondisi kesehatan, menghemat tenaga, serta mengikuti arahan petugas selama menjalankan ibadah.

Maria menegaskan fase puncak haji membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan spiritual sehingga jemaah diminta mengutamakan ibadah wajib, memperbanyak istirahat, menjaga pola makan, cukup minum, dan segera melapor apabila mengalami kendala layanan.

Kementerian Haji dan Umrah turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas haji Indonesia yang terus memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah, baik di Tanah Air maupun di Arab Saudi.

“Transformasi digital ini kami hadirkan untuk memastikan layanan haji semakin cepat, responsif, transparan, dan benar-benar berpihak kepada jemaah,” tutup Maria.  (haji.go.id)