Oleh: Andi Rini Sulestiani (Mahasiswa Pascasarjana Kesmas UIN Alauddin Makassar)
FENOMENA El Nino kembali menjadi perhatian publik. Bersamaan dengan dinamika iklim global, masyarakat Indonesia dihadapkan pada kemungkinan perubahan pola cuaca yang dapat memengaruhi berbagai sektor kehidupan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski intensitas El Nino kali ini diperkirakan berada pada kategori lemah, pertanyaan yang patut diajukan bukan lagi apakah dampaknya akan terjadi, melainkan seberapa siap Indonesia menghadapinya?
Selama ini, istilah El Nino dan La Nina kerap muncul dalam pemberitaan cuaca, namun pemahaman masyarakat terhadap fenomena ini masih relatif terbatas.
Padahal, keduanya memiliki dampak besar terhadap pola musim di Indonesia. El Nino umumnya menyebabkan curah hujan berkurang dan musim kemarau menjadi lebih panjang, sementara La Nina cenderung meningkatkan intensitas hujan.
Secara ilmiah, El Nino dipicu oleh melemahnya angin pasat (trade winds) di Samudra Pasifik ekuator. Dalam kondisi normal, angin ini mendorong massa air hangat dari timur menuju wilayah Asia dan Indonesia, sehingga mendukung pembentukan awan hujan. Namun ketika angin melemah, massa air hangat justru bergeser ke arah timur menuju pesisir Amerika Selatan.
Proses ini memicu serangkaian perubahan, mulai dari pergeseran kumpulan air hangat (warm pool), berhentinya proses upwelling di pesisir Peru dan Ekuador, hingga perubahan tekanan atmosfer yang dikenal sebagai El Nino Southern Oscillation (ENSO).
Siklus laut dan atmosfer tersebut kemudian memengaruhi pola cuaca global, termasuk Indonesia.
Dampaknya tidak bisa dipandang sederhana. El Nino berpotensi menyebabkan kekeringan meteorologis dan hidrologis, menurunkan debit sungai dan waduk, memicu krisis air bersih, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, hingga menurunkan kualitas udara akibat meningkatnya suhu permukaan.
Indonesia pernah mengalami dampak serius El Nino pada beberapa periode sebelumnya, ketika kebakaran lahan meluas dan pasokan air menurun drastis di sejumlah wilayah.
Situasi itu menjadi pengingat bahwa ancaman iklim tidak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, hingga stabilitas ekonomi.
Meski BMKG menyebut potensi El Nino kali ini berada pada kategori lemah, kewaspadaan tetap menjadi keharusan. Sebab, intensitas yang rendah bukan berarti tanpa risiko. Terlebih, perubahan iklim global akibat emisi gas rumah kaca dinilai memperkuat dampak fenomena iklim ekstrem.
Dalam konteks mitigasi, pendekatan perilaku masyarakat menjadi faktor penting. Theory of Planned Behavior yang dikembangkan oleh Icek Ajzen menjelaskan bahwa tindakan seseorang sangat dipengaruhi oleh niat, dan niat tersebut dibentuk oleh tiga faktor utama: sikap, norma subjektif, serta kontrol perilaku.
Artinya, kesiapsiagaan menghadapi El Niño tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat. Menghemat penggunaan air, mulai menanam pohon, menjaga sumber air, hingga meningkatkan kesadaran lingkungan merupakan langkah sederhana namun berdampak besar.
Di sisi lain, pemerintah daerah perlu memperkuat sosialisasi dan edukasi kebencanaan. Tokoh masyarakat, kelompok tani, hingga komunitas lokal dapat dilibatkan untuk membangun budaya mitigasi sejak dini.
Pengalaman internasional menunjukkan pendekatan ini efektif. Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2024 mencatat bahwa peningkatan kesadaran mitigasi mampu mendorong petani menjadi lebih adaptif terhadap ancaman iklim, termasuk dalam penggunaan air yang lebih efisien.
Pada akhirnya, El Nino bukan sekadar fenomena cuaca musiman. Ia adalah ujian kesiapan bangsa menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata.
Indonesia tidak bisa hanya menunggu hujan datang atau berharap kemarau segera berlalu. Yang dibutuhkan adalah kesiapan kolektif, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.
Sebab ketika El Nino benar-benar datang, yang menentukan bukan seberapa besar ancamannya, melainkan seberapa siap kita menghadapinya. (**)

