SOPPENG, UJUNGJARI.COM — Menguatnya nilai tukar Ringgit Malaysia terhadap Rupiah menjadi salah satu alasan utama banyak perantau asal Kabupaten Soppeng menunda kepulangan ke kampung halaman.
Bagi mereka, bekerja di Negeri Jiran saat ini masih memberikan keuntungan ekonomi yang jauh lebih besar dibanding bekerja di daerah asal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah seorang perantau asal Kecamatan Liliriaja, Usman, mengaku memilih tetap bekerja di Malaysia karena penghasilan yang diterimanya jauh lebih tinggi jika dikonversikan ke mata uang Indonesia.
“Upah harian buruh di Malaysia sekitar 70 Ringgit untuk delapan jam kerja, mulai pukul 07.00 hingga 14.00. Kalau dirupiahkan nilainya sekitar Rp290 ribu per hari. Sementara kalau bekerja di kampung, upahnya sekitar Rp150 ribu dengan jam kerja lebih panjang, dari pagi sampai sore,” ujar Usman saat berbincang dengan Ujungjari.com di Singgah Sawah Timusu, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, selain besaran upah, sistem ketenagakerjaan di Malaysia juga menjadi daya tarik tersendiri. Pada hari-hari libur nasional, para pekerja tidak diwajibkan masuk kerja, tetapi tetap menerima upah harian. Bahkan pada hari-hari tertentu, seperti peringatan Hari Kemerdekaan Malaysia setiap 31 Agustus, pekerja bisa memperoleh bayaran hingga dua kali lipat.
“Ini yang membuat kami para perantau masih enggan pulang kampung, kecuali ada keperluan yang benar-benar penting. Dari sisi ekonomi memang lebih menguntungkan bekerja di sini,” katanya.
Usman menambahkan, besarnya nilai Ringgit membuat uang yang dikirim ke keluarga di Soppeng memiliki daya beli yang lebih tinggi.
Kondisi tersebut membantu memenuhi berbagai kebutuhan keluarga, mulai dari biaya pendidikan anak hingga kebutuhan sehari-hari.
Hal senada disampaikan Ayyub, warga Liliriaja yang bekerja sebagai operator alat berat di Malaysia. Ia menilai selisih kurs antara Ringgit dan Rupiah membuat tabungan dapat terkumpul lebih cepat dibanding jika bekerja di Indonesia.
“Kalau dirupiahkan, penghasilan di sini cukup besar. Kebutuhan keluarga di kampung lebih terjamin dan kami juga bisa menabung untuk masa depan. Karena itu banyak teman-teman yang masih memilih bertahan,” ungkapnya.
Meski belum berencana pulang dalam waktu dekat, para perantau mengaku tetap rutin mengirimkan uang kepada keluarga di kampung halaman.
Dana tersebut dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti biaya sekolah anak, modal usaha kecil, hingga memperbaiki rumah.
Mereka menyadari bahwa bekerja di Malaysia tidak akan berlangsung selamanya. Ketika usia sudah tidak lagi memenuhi persyaratan untuk bekerja di Negeri Jiran, kampung halaman tetap menjadi tempat untuk kembali dan menikmati hasil kerja keras selama merantau. (Daus)

