SOPPENG, UJUNGJARI.COM – Memasuki musim kemarau, kelangkaan gas Elpiji 3 kilogram mulai dirasakan di sejumlah wilayah di Kabupaten Soppeng.
Meningkatnya kebutuhan petani untuk mengoperasikan pompa air sawah diduga menjadi salah satu penyebab melonjaknya permintaan gas subsidi tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa hari terakhir, minimnya curah hujan menyebabkan saluran irigasi di sejumlah kawasan pertanian mengering. Kondisi ini memaksa petani mencari sumber air alternatif agar tanaman padi tetap mendapatkan pasokan air.
Sebagian petani memilih memompa air dari sungai maupun mata air menuju areal persawahan. Untuk menekan biaya operasional, banyak di antaranya menggunakan gas Elpiji 3 kg sebagai bahan bakar pompa air.
“Karena irigasi kering, kami pompa air dari sungai dan mata air. Pakai gas lebih cepat dan lebih murah dibandingkan BBM,” ujar Tamin, seorang petani di Kecamatan Liliriaja.
Meningkatnya penggunaan gas untuk kebutuhan pertanian berdampak pada tingginya permintaan Elpiji 3 kg di tingkat pangkalan maupun pengecer.
Hasil penelusuran Ujungjari.com di sejumlah pangkalan Elpiji 3 kg di Kabupaten Soppeng menunjukkan stok tabung gas di banyak pangkalan telah habis.
“Kalau ada gas datang, seketika itu juga langsung habis diburu warga. Apalagi sekarang banyak petani yang pakai untuk pompa air,” kata salah seorang petugas pangkalan Elpiji 3 kg.
Kelangkaan tersebut membuat masyarakat harus mengantre lebih lama untuk mendapatkan gas bersubsidi. Kondisi ini juga mulai dirasakan pelaku usaha kecil, seperti usaha laundry dan rumah tangga, yang sehari-hari mengandalkan Elpiji 3 kg.
Warga berharap ada penambahan kuota pasokan dari Pertamina selama musim kemarau agar kebutuhan masyarakat, sektor pertanian, dan pelaku usaha kecil tetap terpenuhi serta aktivitas ekonomi tidak terganggu. (Daus)

