Adi Maulana
Guru Besar Teknik Geologi UNHAS
Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengda Sulawesi Selatan dan Barat


UJUNGJARI.COM–
Gempa besar berkekuatan sekitar M7,7 yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026, kembali mengingatkan kita bahwa kawasan Flores dan NTT merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas tektonik paling tinggi di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara geologi, kawasan ini berada dalam sistem tektonik yang sangat kompleks, salah satunya dipengaruhi oleh Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Belakang Busur Flores, yaitu sistem sesar naik aktif yang terbentuk akibat tekanan tektonik di belakang busur kepulauan Nusa Tenggara. Akumulasi tegangan pada sistem sesar tersebut dapat dilepaskan secara tiba-tiba dan menghasilkan gempa besar serta guncangan kuat. Namun demikian, mekanisme dan sumber pasti gempa hari ini tetap perlu mengacu pada hasil analisis resmi BMKG yang terus diperbarui.

Yang perlu mendapat perhatian serius adalah potensi tsunami. Gempa dengan magnitudo besar dan sumber relatif dangkal, terutama apabila melibatkan mekanisme sesar naik serta menyebabkan deformasi dasar laut secara signifikan, memiliki kemampuan untuk membangkitkan tsunami. Karena itu, masyarakat di wilayah pesisir harus mengikuti peringatan dan arahan resmi BMKG dan pemerintah daerah.

Jangan kembali ke pantai hanya karena guncangan telah berhenti atau kondisi laut terlihat normal. Tsunami dapat datang dalam beberapa gelombang dan gelombang pertama tidak selalu merupakan yang terbesar.

Secara historis, kita mempunyai pelajaran yang sangat penting dari gempa dan tsunami Flores 12 Desember 1992. Gempa besar tersebut membangkitkan tsunami yang menimbulkan kerusakan sangat luas dan ribuan korban jiwa, termasuk di kawasan Maumere dan pesisir Flores. Catatan sejarah ini menunjukkan bahwa ancaman gempa dan tsunami di kawasan tersebut bukanlah sesuatu yang hipotetis, tetapi merupakan bagian nyata dari dinamika geologi Nusa Tenggara.

Karena itu, pesan terpenting kepada masyarakat adalah tetap tenang tetapi waspada. Bagi masyarakat pesisir yang merasakan gempa sangat kuat atau berlangsung cukup lama, keselamatan harus menjadi prioritas: segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi atau lokasi evakuasi tanpa menunggu informasi yang beredar di media sosial. Ikuti hanya informasi resmi BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah setempat, serta waspadai gempa susulan. Hindari bangunan yang mengalami kerusakan sampai dinyatakan aman.

Dalam jangka panjang, kejadian ini kembali menunjukkan bahwa pemahaman geologi harus menjadi bagian penting dari pembangunan wilayah.

Peta sumber gempa, zona rawan tsunami, jalur dan tempat evakuasi, tata ruang pesisir, standar bangunan tahan gempa, serta pendidikan kebencanaan harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar diterapkan di lapangan.

Kita memang tidak dapat mencegah gempa bumi, tetapi dengan ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, dan tata kelola yang baik, kita dapat secara signifikan mengurangi jumlah korban dan kerugian ketika gempa besar kembali terjadi.