Catatan untuk Seorang Sahabat yang Pergi
Oleh: Egy Massadiah
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
PAGI ini, Minggu, 20 September 2026, sebuah kabar datang dengan cara yang tak pernah kita inginkan. Jarwansah, sahabat banyak teman, Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), berpulang di RS Brawijaya Saharjo, Jakarta Selatan.
Kabar itu disampaikan dr. Yamin, dokter ahli jantung, sesama putra Aceh, sahabat Jarwansah, juga sahabat saya. Hanya beberapa kata. Tetapi pagi tiba-tiba terasa begitu panjang.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Ada kematian yang kita terima sebagai berita. Ada pula kematian yang seperti merobek satu halaman dari buku kehidupan kita sendiri. Kepergian Jarwansah bagi saya adalah yang kedua.
Saya mengenalnya sejak Januari 2019, ketika saya menjadi Tenaga Ahli Bidang Media Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo. Jarwansah ketika itu masih pejabat eselon III. Namun pangkat sesungguhnya tak pernah cukup untuk menjelaskan siapa dia.
Jauh sebelum namanya berada di jajaran pimpinan tinggi BNPB, Jarwansah telah memiliki sesuatu yang tak pernah bisa diberikan oleh surat keputusan: kesediaan untuk hadir ketika orang lain sedang kesusahan.
Jarwansah adalah putra Aceh, lahir 30 Agustus 1970. Jalan pengabdiannya bermula jauh dari sirene ambulans, reruntuhan gempa, dan pos komando bencana. Ia mengawalinya sebagai guru SMEA Negeri Kutacane pada 1995–2001. Dari ruang kelas, ia kemudian mengabdi di pemerintahan Aceh Tenggara, antara lain di Dinas Pendidikan dan Bappeda.
Takdir kemudian mempertemukannya dengan dunia kebencanaan. Ia pernah memimpin Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh sebelum bergabung dengan BNPB. Kariernya menanjak: dari kepala subdirektorat, direktur yang menangani kedaruratan dan sumber daya darurat, hingga pada 10 Juni 2021 dilantik Kepala BNPB Letjen TNI Ganip Warsito sebagai Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi.
Namun daftar jabatan selalu terlalu pendek untuk menceritakan kehidupan seorang manusia.
Jarwansah bekerja di wilayah tempat manusia berjumpa dengan sisi paling rapuh dari hidupnya. Gempa, tsunami, banjir, longsor, erupsi, pandemi—baginya bukan sekadar angka dalam laporan.
Sebab di balik tulisan satu rumah rusak berat, ada sebuah keluarga yang kehilangan tempat pulang. Di balik jembatan yang putus, ada kehidupan yang terpisah. Dan di balik angka korban, selalu ada nama, keluarga, serta air mata.
Itulah sebabnya rehabilitasi dan rekonstruksi tidak semata urusan membangun kembali beton. Ia adalah pekerjaan membangun kembali harapan.
Jarwansah memahami itu.
Perjalanan pengabdiannya melintasi beberapa kepemimpinan BNPB. Ia tumbuh dalam dunia kebencanaan sejak masa Mayjen TNI (Purn.) Syamsul Maarif, melewati masa Willem Rampangilei, berjibaku di lapangan bersama Letjen TNI Doni Monardo, dipercaya menjadi deputi pada masa Letjen TNI Ganip Warsito, lalu meneruskan tugas bersama Letjen TNI Suharyanto.
Pada masa Doni Monardo, saya mengenal Jarwansah lebih dekat. Bencana datang silih berganti. Kami lebih sering bertemu di lapangan daripada di ruang berpendingin udara. Gempa Mamuju Sulbar, bencana di NTT, longsor di Sumbar, dan masih banyak lagi, mengentalkan perkenalan kami, mendampingi kepala BNPB Doni Monardo.
Saat Covid 19 mendera negeri ini, kami berada di pusarannya. Jarwansah menjadi salah seorang yang menginap di kantor BNPB sebagai tanggungjawab kami dalam posisi satgas penanggulangan dan pengendalian Covid 19.
Doni memiliki kebiasaan sederhana: bencana harus dilihat dari dekat. Laporan anak buah dan peta tidak pernah cukup. Kami harus datang, melihat wajah manusia yang terdampak, mendengar keluh mereka, lalu mencari jalan keluar.
Jarwansah hampir selalu menjadi salah seorang yang siap berangkat.
Dan ada satu perjalanan bersamanya yang tak mungkin saya lupakan.
6 Januari 2020. Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Hari itu Doni Monardo selesai meninjau lokasi bencana. Kami bersiap kembali ke Manado menggunakan helikopter. Ada sembilan orang di dalamnya. Selain pilot dan kru, ada Doni Monardo, Jarwansah, saya, dan beberapa penumpang lainnya.
Helikopter mulai bergerak dari Lapangan Gesit, Tahuna. Lalu, hanya dalam hitungan detik, keadaan berubah.
Angin kencang menghantam. Helikopter kehilangan kestabilan. Dalam situasi seperti itu, manusia tiba-tiba mengerti betapa tipis jarak antara rencana dan takdir.
Tetapi Allah masih memberi kami waktu. Kami selamat. Tidak ada korban jiwa.
Kami turun dari helikopter dengan kaki yang masih bisa menginjak bumi, sementara jantung berdetak mungkin lebih keras daripada suara rotor yang baru saja berhenti.
Hari itu, saya, Doni Monardo, dan Jarwansah seperti mendapat pinjaman kehidupan sekali lagi.
Doni kemudian berpulang lebih dahulu. Kini Jarwansah menyusul.
Di sini, mengenang sebuah pagi di Tahuna ketika kami bertiga pernah begitu dekat dengan maut, lalu diperkenankan menjauh darinya. Kami pernah jatuh bersama dari langit Tahuna. Rupanya Tuhan hanya sedang menunda perpisahan.
Setelah Doni Monardo, Jarwansah terus bekerja. Pada masa Ganip Warsito ia dipercaya menjadi Deputi Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Pada masa Suharyanto, tugas itu diteruskannya: mendampingi pemulihan daerah, membangun kembali rumah dan infrastruktur, memulihkan kehidupan sosial serta menggerakkan kembali ekonomi masyarakat.
Ketika bencana kembali menerpa tanah kelahirannya, Aceh, pada akhir 2025, Jarwansah kembali ke sana membawa tugas negara di pundaknya. Seorang anak Aceh hadir untuk membantu menyembuhkan luka tanah kelahirannya sendiri.
Tetapi bagi saya, Jarwansah bukan sekadar deputi. Ia adalah kawan.
Ia ringan tangan. Mudah dimintai pertolongan. Di tengah birokrasi yang terkadang sibuk dengan disposisi, paraf dan jenjang kewenangan, Jarwansah memiliki bahasa yang jauh lebih sederhana:
“Apa yang bisa kita bantu?”
Kalimat itu pendek. Tetapi dalam dunia bencana, ia bisa berarti nasi sampai ke pengungsian, sebuah keluarga kembali mempunyai atap, jalan yang terputus kembali tersambung, atau seseorang yang nyaris kehilangan harapan akhirnya merasa: negara masih ada di sini.
Orang Aceh tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup sangat dekat dengan Tuhan. Tanah itu telah berkali-kali belajar bahwa yang berdiri dapat roboh, yang berkumpul akan berpisah, dan apa pun yang kita genggam suatu hari harus dikembalikan kepada Pemilik kehidupan.
Tsunami pernah mengajari Aceh dengan cara paling getir: rumah boleh hilang, kampung boleh luluh, orang-orang tercinta boleh pergi. Tetapi iman tidak boleh ikut terkubur bersama reruntuhan.
Dalam kearifan Aceh yang berakar kuat pada Islam, kematian bukan perjalanan menuju ketiadaan.
Kematian adalah pulang.
Manusia datang membawa amanah. Hidup sebentar. Lalu pergi meninggalkan jejak.
Maka mungkin hari ini kita tidak sepenuhnya kehilangan Jarwansah.
Teleponnya memang tak akan lagi menjawab. Kursinya di Graha BNPB akan kosong. Langkahnya menuju ruang rapat tak lagi terdengar. Tak ada lagi suaranya memerintahkan tim bergerak menuju daerah bencana.
Tetapi kebaikan mempunyai caranya sendiri untuk melawan kematian.
Jarwansah akan tetap hidup dalam rumah-rumah korban bencana yang kembali berdiri. Dalam keluarga yang menemukan kembali tempat pulang. Dalam pegawai muda BNPB yang pernah belajar darinya. Dalam sahabat yang pernah ditolongnya. Juga dalam orang-orang yang mungkin tidak pernah mengenal wajahnya, tetapi pernah merasakan manfaat dari pekerjaannya.
Sepanjang hidup profesionalnya, Jarwansah sibuk membantu manusia bangkit setelah bencana.
Barangkali tanpa disadarinya, selama itu pula ia sedang membangun monumen kehidupannya sendiri.
Bukan dari batu.
Bukan dari prasasti.
Melainkan dari pertolongan.
Kepada istri, anak-anak dan keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah memberi kekuatan. Sebab kehilangan seorang suami, ayah, saudara dan tempat bersandar tak akan pernah dapat digantikan oleh jabatan, pangkat, ataupun penghargaan.
Kepada keluarga besar BNPB, tabahlah. Hari ini dunia kebencanaan Indonesia kehilangan seorang pekerja kemanusiaan: seseorang yang tahu bagaimana datang ketika bencana terjadi, dan tetap bekerja ketika kamera-kamera sudah pergi.
Dan kepadamu, sahabatku Jarwansah, akhirnya saya harus mengucapkan sesuatu yang sesungguhnya tidak ingin saya ucapkan:
Perjalanan kita ternyata sampai di sini.
Kita pernah naik helikopter bersama. Pernah hampir jatuh bersama. Pernah diselamatkan bersama. Kita pernah jatuh bersama dari langit Tahuna. Tetapi pagi ini engkau berangkat sendiri.
Perjalananmu kali ini tak lagi membutuhkan helikopter, kendaraan lapangan, surat tugas, rompi BNPB, ataupun pos komando.
Selamat jalan, sahabat.
Aceh telah melahirkanmu. Indonesia menjadi ladang pengabdianmu. Bencana-bencana menempa hidupmu. Dan kebaikanlah yang kelak membuat orang mengingatmu.
Semoga setiap rumah yang pernah engkau bantu bangun kembali menjadi saksi amalmu. Setiap tangan yang pernah engkau genggam menjadi doa. Setiap air mata yang pernah engkau bantu usap menjadi penerang perjalananmu menuju keabadian.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
Selamat jalan, Jarwansah.
Engkau telah begitu lama mengurus kehidupan orang lain setelah bencana.
Sekarang tugasmu telah selesai. Pulanglah. Beristirahatlah. Kami yang masih tinggal akan mengenangmu.
Dan setiap kali saya mendengar suara helikopter mengoyak langit, mungkin ingatan saya akan kembali ke Tahuna—kepada sebuah pagi ketika kita pernah jatuh bersama, lalu bangkit bersama.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafmu, menerima seluruh amal pengabdianmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Al-Fatihah. (*)

