MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Bertaburnya bursa calon walikota Makassar, sejumlah nama pun mulai menarik simpati warga pemilih.

Berbagai gaya dan strategi pun mulai ditampakkan. Mulai dari blusukan, hingga merangkul komunitas dari berbagai elemen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak tanggung-tanggung, ada sekitar 40-an nama sudah mencuat bakal meramaikan menuju panggung demokrasi 2020. Tapi siapa yang bakal menguat, dari bursa menjadi calon? Semua masih menjadi teka-teki. Waktu masih panjang, dan segala sesuatu masih bisa berubah.

Satu diantara bursa itu mulai menyeruak dan menjadi perguncingan, DR Iriyanto Andi Baso Ence, SH, MH.

Pengusaha travel umroh ini, sosoknya tenang, cukup religius. Dia lebih memilih mengamati, merespon dengan terbuka berbagai elemen yang datang silih berganti menyatakan dukungannya.

Dukungan tidak hanya datang dari tokoh masyarakat yang bermukim di Bumi Tamalanrea Permai, tapi sejumlah tokoh nasional juga mulai menyemangatinya.

‘’Biarlah semua mengalir secara alami. Saya tidak mencari waktu yang tepat, tapi saya memilih yang tepat waktunya untuk berbicara secara terbuka. Kapan mesin dukungan ini digerakkan,” kata Anto—Panggilan Akrab Iriyanto.

Ketepatan waktu itulah, menurut Anto, maka strategi untuk polarisasi dukungan akan ditampakkan. Strategi itu memang bukan isapan jempol.

Pengalamannya sebagai pengacara yang malang melintang di dunia peradilan, dan kemampuannya dalam organisasi. Mulai dari Ketua Senat Fakultas Hukum UMI angkatan 1980, Ketua bidang di HMI, mantan Komdis PSM dan PSSI serta menjabat Ketua Dewan Pembina DPD Partai Demokrat di masa kepemimpinan Ilham Arief Sirajuddin cukup menjadi referensi baginya untuk berkiprah.

Semuanya mengilhami dirinya untuk memperdalam kajian keilmuannya di bidang hukum ketatanegaraan untuk memahami hakikat hak warga negara.

‘’Hak warga negara bukan lagi menjadi hak yang harus dipayungi dalam keputusan (beschikking) tapi justru melekat sebagai peraturan (regeling). Ini adalah instrumen hukum yang berlaku umum, jadi ketika hak-hak mendasar, seperti pendidikan, kesehatan dan lapangan kerja tidak lagi harus diberlakukan secara sektoral tapi harus berlaku secara universal,’’ jelasnya.

Pemikiran praktisi, akademisi dengan pondasi keimanan dalam kerangka pemikiran yang religius memadukan gerak dan langkah Anto dalam berkiprah.

Bukan tidak mungkin bursa calon walikota Makassar ini, bakal menjadi ‘’kuda hitam’’ dari BTP yang mempunyai potensi kekuatan besar untuk tampil mengejutkan dalam Pilwali. Akankah itu menjadi kenyataan? Kita tunggu ketepatan waktu yang menjawab. (**)