ikut bergabung

Pingin ke Raja Ampat ?.. Mending ke Gowa, Ada Bolangi Ampat .. Lho

Para pengunjung dari berbagai daerah tetangga Kabupaten Gowa terus mengalir meski bukan diakhir pekan.(dok)

Berita

Pingin ke Raja Ampat ?.. Mending ke Gowa, Ada Bolangi Ampat .. Lho

GOWA, UJUNGJARI.COM — Eksotik, indah. Itulah kalimat pertama yang terucap dibibir para pengunjung Bolangi Ampat yang terletak di puncak bukit Bolangi Appa (Bolangi IV), Dusun Parassui, Desa Timbuseng, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa.

Dari luar kawasan, orang hanya bisa melihat hamparan kebun yang sudah tandus lantaran tidak ditanami lagi. Dulu kawasan kebun ini adalah hamparan jagung, namun kini tidak lagi. Sebagian kawasan itu sudah menjadi hamparan motor dan mobil yang terparkir. Motor dan mobil itu adalah milik para pemuda pemudi yang datang melihat keindahan panorama waduk Bilibili dari puncak Bolangi Appa yang kini heboh dan viral dengan sebutan Bolangi Ampat.

Mereka datang dari berbagai penjuru kota di Sulsel, seperti Makassar, Maros, Takalar dan beberapa  daerah lagi.

Mereka datang lantaran ingin melihat langsung duplikat Raja Ampat Papua yang sudah terkenal hingga ke mancanegara.

” Saya jadi penasaran katanya ada Raja Ampat di Gowa namanya Bolangi Ampat. Seperti apa yah.. selama viral saya melihat di medsos indahnya pulau kecil terhampar di tengah waduk Bilibili. Setelah melihat langsung saya sudah percaya bahwa Bolangi Ampat ini memang eksotik sekali,” kata Marlina yang datang bersama kekasihnya Surya, akhir pekan kemarin tepatnya Sabtu, 27 Juni 2020

Bukan hanya Marlina dan Surya yang terkagum-kagum dengan potensi wisata yang ditawarkan Bolangi Ampat ini, tapi seorang fasilitator pusat Program Kotaku yakni Nurliah Ruma (Korkot Kotaku Wilayah IV Sulsel meliputi Gowa, Bantaeng, Sinjai, Bulukumba dan Selayar inipun terkagum-kagum. 

Bahkan Nurliah Ruma merasakan sangat ketinggalan dan kecolongan. ” Di Gowa ini yang merupakan kampung saya ternyata ada potensi besar yang membuat saya terpana. Terus terang saya kecolongan. Saya kecolongan karena kawasan potensi wisata baru ini viral di medsos dan saya belum pernah melihatnya selain hari ini saya datang khusus untuk menjawab rasa penasaran saya itu. Sungguh saya kecolongan, dimana masyarakat Makassar sudah ramai-ramai datang dan bahkan sampai berkali-kali sementara saya tidak. Saya tidak bisa bercerita jika saya tidak melihat langsung kebenarannya,” ungkap Nurliah Ruma.

Sebagai Korkot Kotaku yang menangani kawasan kumuh dan pencetus kawasan-kawasan potensi untuk dijadikan kawasan potensi wisata, Nurliah Ruma pun langsung menawarkan ide penataan kawasan Bolangi Ampat agar menjadi lebih keren lagi.

” Pemuda di sini, di wilayah Bolangi Ampat ini harus buka mata dan asah otak untuk mengembangkan kawasan ini. Pemerintah daerah pun harus cepat tanggap karena Bolangi Ampat bisa menjadi ladang ‘uang’ bagi daerah,” kata Nurliah Ruma.

Kawasan Bolangi Ampat ini menurut komunitas pemuda Parassui yang mengelolanya saat ini, berada di luasan 47 are. Dalam kawasan Bolangi Ampat inipun tidak hanya milik satu orang warga tapi ada tiga orang pemilik.

Untuk area perparkiran dan area kuliner (warung-warung makanan) masing-masing punya pemilik berbeda namun masih status keluarga. Sementara untuk lahan dalam dimana hamparan waduk Bilibili bisa terlihat dengan jelas di bibir jurang adalah  lahan milik Hadi Dg Ngenang bersama suaminya Hamjah dg Ngella.

Kepada Ujungjari.com saat ditanya awal ihwal lokasinya disebut Bolangi Ampat, ibu berusia 48 tahun ini mengatakan dirinya pun bagai baru terbangun dari tidurnya.

” Lokasi ini sebenarnya ladang jagung dan sebagiannya rindang oleh pepohonan. Saya tidak tau ternyata tanah saya ini menyimpan potensi besar. Itu kata orang, karena saya kasian tidak berpikir kesituji. Barupa sadar saat suami saya menebang seluruh pohon yang tumbuh di kebun ini. Setelah menebangi pohon dan kemudian saya melihat hamparan air waduk Bilibili dari ketinggian kebun saya ini ternyata dendeee anu pore paeng (potensi yang luar biasa, red),” beber Hadi Dg Ngenang ketika ditanya awal Bolangi Ampat menjadi viral dan kini banyak dikunjungi orang luar Gowa maupun lokal.

Dibeberkan Hadi Dg Ngenang, potensi lokasi kebunnya ini mulai dikunjungi orang ketika beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri Mei 2020 lalu, sekelompok pemuda kampung masuk ke kebunnya. 

Lalu pemuda-pemuda Parassui ini berselfi kemudian memviralkannya di medsos. ” Iye, setelah lebaran lalu anak-anak muda disini mulai perkenalkan pemandangan permukaan waduk Bilibili dan mereka berdiri di atas lahan kebun saya ini. Setelah terkenalmi, viral nabilang anak-anaka, banyakmi orang masuk dan kemudian pemuda-pemuda disini mulaimi menata kawasan ini. Adami tempat parkir dan tempat jualan. Sekarang hampir setiap hari ramaimi orang datang apalagi hari Sabtu dan Minggu,” jelas Hadi Dg Ngenang.

Ujungjari.com yang tiba di lokasi Bolangi Ampat sekira pukul 14.30 Wita, mengamati pengunjung yang mengalir hingga pukul 17.30 Wita.

Pengunjung didominasi kaum muda mudi. Saat masuk di gerbang kawasan yang terbuat dari bambu yang ditutupi papan nama terbuat dari kain spanduk plastik bertuliskan selamat datang di lokasi wisata Bolangi Ampat dan dijagai beberapa penjaja karcis masuk (belum ada karcis, pengunjung bayar Rp  5.000 per orang), semakin sore jelang petang, kawasan Bolangi Ampat semakin dialiri pengunjung.

Luar biasa daya tarik Bolangi Ampat ini. Para pengunjung yang datang langsung blingsatan berselfi maupun berwelfi ria dengan. Dan mereka betah berlama-lama di puncak sambil berselfi aneka macam gaya.

Pengelola pun proaktif mengingatkan para pengunjung agar selalu waspada jika berada di pinggir atau dibibir jurang curam. Pasalnya, hingga kini belum ada pengaman permanen. Yang ada hanyalah tumpukan batu gunung ditata sedemikian rupa lalu pengamanan tambahan adalah seutas tali plastik yang dibentang di batas bibir jurang yang curam.

” Janganki terlalu ke pinggir nanti jatuh. Kalau tidak mauki mendengar sebaiknya pulang saja sebab kami tidak mau Anda berisiko,” begitu teriakan peringatan dari pengelola melalui pengeras suara jenis megaphone.

Bolangi Ampat ini dikelola komunitas pemuda Parassui yang dikoordinir ketua komunitas bernama Daeng Mangung.

Dibawah pengelolaan Bolangi Ampat ini menurut Mursalim, salah satu anggota komunitas yang berjaga di pintu masuk yang terbuat dari bambu tersebut, mengatakan, sejak Bolangi Ampat dibuka dan mulai dikelola pemuda Parassui, omzet yang diraih pengelola setiap akhir pekan cukuplah banyak bahkan cenderung naik.

Dari awalnya hanya mengumpulkan uang jasa karcis masuk antara satu hingga dua jutaan rupiah, kini pengelola sudah mendapatkan pemasukan dari karcis hingga enam jutaan rupiah.

” Iye hari Minggu lalu kami mendapatkan pemasukan dari penjualan karcis masuk sebesar Rp 5.000 per orang. Cuma karena saat ini kami belum menggunakan fisik karcis karena masih dibuat, maka pendapatan itu kami lakukan dengan sistem mencatat jumlah orang masuk Bolangi Ampat,” kata Mursalim.

Dikatakan Mursalim dari hasil omzet masuk itu, pengelola kini sudah memfasiltasi pengunjung dengan membuatkan toilet. Satu unit di kawasan perparkiran, satu unit lagi diletakkan di dalam kawasan Bolangi Ampat.

” Bolangi Ampat ini sungguh luar biasa, Bu. Dengan view hamparan air waduk Bilibili, pengunjung tak jenuh berlama-lama sambil mengabadikan gaya mereka (berselfi) ke dalam grup WhatsApp yang indah,” promo Mursalim.

Sekarang kata Mursalim, pengunjung tidak hanya datang siang hari, tapi ada juga yang sengaja datang pada jam enam pagi dan hingga jam lima sore. Mereka datang di awal pagi dan jelang petang karena sengaja ingin melihat  pemandangan indah dengan semburat jingga dari arah barat maupun dari timur.

” Dengan omzet yang mulai masuk setiap akhir pekan maka kami pun mulai bisa mengembangkan pengelolaan Bolangi Ampat ini pelan-pelan,” jelas Mursalim.

Ditanya bagaimana pengelola bersinergi dengan para pemilik lahan, menurut Mursalim dilakukan dengan sistem bagi persenan.

” Setiap pemasukan khususnya di pintu masuk (karcis), kami beri ke pemilik lahan masing-masing 10 persen, selebih masuk kas kami untuk biaya pengelolaan,” tambah Mursalim.

Bolangi Ampat di Dusun Parassui ini jaraknya dari ibukota Desa Timbuseng 5 kilometer. Sarana jalan menuju lokasi ini mulus. Jalannya pun variatif, ada yang menanjak, ada yang landai dan ada yang penurunan.

Jika pengunjung masuk dari Desa Timbuseng tepat di samping kantor desa maka setelah balik dari Bolangi Ampat, pengunjung lebih memilih pulang melewati poros Bontosunggu, yang tembus di bibir Waduk Bilibili, tepatnya di Kelurahan Bontoparang, Kecamatan Parangloe. Keluar dari poros Bontosunggu ini, pengunjung bisa melalui Kampung Bilaya, Desa Pallantikang, Kecamatan Pattallassang (jika ke arah timur) menuju kota Sungguminasa-Jl Hertasning Makassar. Tapi jika ingin ke arah selatan melewati pintu gerbang Waduk Bilibili maka harus melintas di poros Bilibili, Desa Bilibili, Kecamatan Bontomarannu terus menuju kota Sungguminasa-Makassar.-

Komentar Anda

Channel
Comments

Berita lainnya Berita

Populer Minggu ini

Arsip

To Top