Oleh: Ahmad Razak
Dosen Psikologi UNM
PSIKOLOGI kebangsaan adalah suatu fondasi mental, sikap, nilai, dan kesadaran kolektif yang menyatukan warga dalam menjaga keselamatan dan kemakmuran bangsa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kondisi Indonesia yang beragam, pembentukan kesadaran ini menjadi sangat penting untuk menghadapi berbagai tantangan, disintegrasi sosial, ketidakadilan, dan konflik.
Bangsa yang kuat tidak hanya diukur dari kekuatan militer dan persenjataannya, tetapi yang utama adalah dari ketangguhan mental warganya terutama dalam menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) dan tanggung jawab bersama.
Ketika kita semua sadar dan terlibat sebagai bagian dari negeri ini, maka energi kebangsaan menjadi nyata dan produktif.
Sayangnya, era digital dan globalisasi membawa tantangan serius terhadap psikologi kebangsaan. Disinformasi, bias kognitif, dan polarisasi media sosial menciptakan ruang-ruang perpecahan, melemahkan solidaritas nasional, dan kerap menimbulkan konflik horizontal yang berbahaya.
Ketika ketangguhan mental mulai rapuh, konflik lebih mudah meledak. Ketika empati dan kesadaran sosial memudar, nilai-nilai kebangsaan yang seharusnya menyatukan tetapi sebaliknya justru berpotensi menjadi sumber perseteruan.
Dalam perspektif Islam, ada ilustrasi penting tentang dunia sebagai kebun yang hanya bisa makmur jika lima elemen tersinergi, yaitu: 1) ilmunya para ulama, 2. keadilan para pemimpin, 3. kedisiplinan para pegawai, 4. kejujuran para pedagang dan pengusaha, serta 5. kepatuhan masyarakat.
Ini kelima hal tersebut merupakan refleksi spiritual yang kuat dalam membangun psikologi kebangsaan.
Tragisnya, saat ini kita menyaksikan ilustrasi kebun (bangsa Indonesia) yang justru terbakar: unjuk rasa yang awalnya mencerminkan harapan kini berubah menjadi konflik, ketika ribuan demonstran menerima kemarahan akibat tunjangan DPR yang tinggi dan kematian seorang driver ojek online di bawah roda mobil polisi.
Aksi-aksi di Makassar, Bandung, Cirebon, dan sejumlah kota lain memperlihatkan kerusuhan yang membakar kantor parlemen dan memakan korban jiwa.
Di Makassar, setidaknya tiga orang tewas saat kantor DPRD dibakar, sedangkan puluhan mobil dinas dan kendaraan pribadi hangus terbakar.
Di beberapa kota lainnya Pekalongan, Mataram, Cirebon, serta Yogyakarta serangan vandalisme, penjarahan, dan pembakaran bangunan publik juga terjadi
Krisis ini menunjukkan betapa rapuhnya psikologi kebangsaan ketika lima elemen kebun bangsa gagal.
Di saat ilmu disalah gunakan demi kepentingan sempit, saat keadilan dipertanyakan, disiplin tergantikan oleh amarah, kejujuran pupus harapan, dan kepatuhan digantikan dengan kehancuran, maka kebun bangsa inilah bangsa kita mudah tercabik dan terbakar.
Saatnyalah kita semua menyadari dan menghidupkan kembali fondasi kebangsaan menguatkan pendidikan karakter dan agama, menunjujkkan integritas dan tanggung jawab profesi kita masing-masing untuk keutuhan dan keselamatan bangsa.
Psikologi kebangsaan, membangun ketahanan mental bangsa bukanlah sebuah retorika, melainkan fondasi batin yang harus dirawat dengan serius melalui pendidikan, kepemimpinan yang bertanggung jawab, serta inovasi sosial yang menumbuhkan kebersamaan dan perdamaian.

