SINGAPURA, UJUNGJARI.COM – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Suyudi Ario Seto, bersama jajaran melakukan audiensi strategis dengan Central Narcotics Bureau (CNB) Singapura, beberapa waktu lalu, untuk memperkuat kerja sama bilateral menghadapi peredaran gelap narkoba lintas negara.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Kepala BNN RI menyampaikan apresiasi kepada Direktur CNB Singapura, Sebastian Tan, beserta jajaran atas sambutan yang hangat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Audiensi ini menjadi bukti kuatnya hubungan persaudaraan dan kemitraan strategis antara Indonesia dan Singapura dalam menjaga stabilitas serta keamanan kawasan.

Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa kedua negara menghadapi ancaman yang sama, terutama dampak dari kawasan Golden Triangle.

Produksi metamfetamina yang masif di wilayah utara mencari celah pasar di kawasan selatan, sehingga keamanan Singapura dan Indonesia saling terkait.

Kepala BNN juga memaparkan hasil survei nasional yang dilakukan BRIN, BPS, dan BNN, menunjukkan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada 2025 mencapai 2,11%, setara dengan 4,1 juta jiwa penduduk usia produktif (15–64 tahun).

Salah satu tantangan serius adalah pergeseran modus peredaran ke New Psychoactive Substances (NPS), termasuk penggunaan etomidate yang dicampurkan ke dalam liquid vape. Modus ini dinilai berbahaya karena sulit dideteksi dan populer di kalangan remaja perkotaan.

Sebagai respons, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025 yang mengklasifikasikan etomidate sebagai narkotika golongan II, memungkinkan penegakan hukum lebih tegas sesuai prinsip zero tolerance yang diterapkan Singapura.

Audiensi juga menyoroti isu keamanan perbatasan laut, khususnya Selat Malaka dan Selat Singapura. Modus penyelundupan melalui ship-to-ship transfer maupun jalur feri penumpang dengan metode body strapping menjadi tantangan serius yang memerlukan pengawasan dan koordinasi terintegrasi kedua negara.

Di bidang pencegahan, Indonesia menekankan pendekatan soft power melalui Program ANANDA (Aksi Nasional Anti Narkoba Dimulai dari Anak). BNN berharap dapat berbagi pengalaman dengan Singapura terkait pengembangan kurikulum pencegahan narkoba yang efektif.

Selain itu, BNN mengusulkan penguatan kerja sama di bidang financial investigation, memanfaatkan posisi Singapura sebagai global financial hub.

Kolaborasi dalam pelacakan aset dan penanganan tindak pidana pencucian uang dianggap penting untuk memiskinkan bandar narkoba dan memutus rantai kejahatan terorganisir.

Sebagai penutup, Kepala BNN RI menekankan pentingnya pertukaran intelijen real-time dan presisi, khususnya terkait pergerakan daftar pencarian orang (DPO) lintas negara. BNN menegaskan komitmen penuh untuk menjadi mitra strategis CNB Singapura dalam menjaga stabilitas dan keamanan ASEAN dari ancaman narkoba. (Rls)