SOPPENG, UJUNGJARI.COM – Pemandian Air Panas Lejja yang terletak di Desa Bulue, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, hingga kini tetap menjadi ikon wisata andalan daerah.
Keindahan alam, suasana yang asri, serta berbagai cerita legenda yang masih dipercaya masyarakat menjadikan Kawasan Wisata Lejja selalu diminati wisatawan dari berbagai daerah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Objek wisata Pemandian Air Panas Lejja merupakan sumber mata air panas alami dengan suhu mencapai sekitar 60 derajat Celsius dan mengandung belerang.
Kondisi ini membuat Lejja tidak hanya berfungsi sebagai sarana rekreasi, tetapi juga dikenal sebagai wahana terapi alam yang dipercaya bermanfaat bagi kesehatan.
Dari masa ke masa, Permandian Air Panas Lejja terus menjadi destinasi favorit. Selain berenang dan berendam, pengunjung juga dapat menikmati berbagai wahana yang telah disiapkan oleh pengelola, termasuk fasilitas pendukung bagi wisatawan yang gemar relaksasi dan healing. Saat ini, sarana tersebut sudah semakin memadai.
Suasana kawasan yang teduh, jauh dari kebisingan dan polusi kendaraan, memberikan kenyamanan tersendiri bagi para pengunjung.
Tak jarang, wisatawan betah berendam selama berjam-jam tanpa terasa. Hal tersebut diungkapkan salah seorang pengunjung asal Makassar, Andi Magfirah, saat ditemui UjungJari.com, Minggu (25/1/2026).
Ia mengaku sengaja datang bersama keluarga dari Makassar hanya untuk melihat langsung Kawasan Wisata Lejja yang selama ini hanya mereka lihat melalui media sosial.
“Akhirnya hari ini kami bisa menikmati langsung permandian air panas Lejja. Tempatnya sangat unik dan punya daya tarik tersendiri karena dikelilingi hutan lindung. Suasananya sangat menyenangkan,” ujar Andi Magfirah.
Selain keindahan alam dan manfaat terapinya, Air Panas Lejja juga dikenal dengan berbagai cerita legenda, mulai dari hal mistis hingga mitos yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satunya adalah keberadaan “sumur jodoh” yang cukup populer di kalangan pengunjung.
Konon, seseorang yang menggantungkan botol plastik di sekitar sumur jodoh diyakini akan segera dipertemukan dengan pasangannya.
Kepercayaan ini berkembang dari cerita turun-temurun dan masih diyakini oleh sebagian masyarakat.
“Kepercayaan seperti itu memang masih ada dan berkembang dari mulut ke mulut dalam waktu yang cukup lama. Sebagian masyarakat masih mempercayainya,” ujar warga setempat bernama Sartono.
Menurut Sartono, sebutan sumur jodoh muncul karena banyak orang yang datang, berkenalan, dan bertemu di lokasi tersebut.
“Yang berkenalan di situ mungkin kebetulan, lalu ada di antara mereka yang berlanjut hingga ke jenjang pernikahan,” jelasnya.
Selain sumur jodoh, dahulu juga terdapat pohon beringin yang sering dijadikan tempat menggantung botol atau batu berisi air.
Pengunjung meyakini hal tersebut sebagai simbol menggantungkan cita-cita dan harapan agar kehidupan ke depan menjadi lebih baik.
“Namun, seiring perkembangan zaman dan lahirnya generasi milenial, kepercayaan terhadap mitos-mitos tersebut mulai berkurang. Meski demikian, hingga kini masih ada sebagian pengunjung yang tetap mempercayainya,” tutup Sartono. (Daus)


