SOPPENG, UJUNGJARI.COM — Dalam politik kerap terdengar ungkapan bahwa tidak ada kawan maupun lawan yang abadi. Dinamika demokrasi sering kali menyisakan cerita panjang setelah pesta demokrasi usai.

Sekat sosial dan gesekan di tingkat bawah pun kerap terjadi, bahkan berlangsung cukup lama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun pemandangan berbeda terlihat di Kabupaten Kabupaten Soppeng. Dua sosok yang pernah bertarung memperebutkan kursi kepemimpinan Bumi Latemmamala pada Pilkada Soppeng 2024, yakni Suwardi Haseng dan Andi Mapparemma, kini justru menunjukkan hubungan yang hangat dan penuh keakraban.

Keduanya kembali terlihat bersama saat menghadiri undangan acara pernikahan pada Sabtu, 15 Februari 2026. Tidak diketahui apakah pertemuan itu telah direncanakan atau sekadar kebetulan, namun yang tampak jelas adalah tidak adanya jarak di antara keduanya.

Tak ada gestur formal yang dibuat-buat. Yang terlihat justru senyum lepas, jabat tangan yang berubah menjadi pelukan hangat, serta candaan ringan yang memancing gelak tawa para tamu undangan.

Padahal, kontestasi Pilkada 2024 di Soppeng berlangsung cukup sengit. Narasi kampanye saling beradu, dukungan masyarakat dari tingkat bawah hingga elite politik lokal sempat terbelah, dan perdebatan mengeras baik di ruang-ruang diskusi maupun media sosial.

Fenomena seperti ini bukan hal baru dalam demokrasi lokal. Politik sering menyentuh ruang identitas dan harga diri. Ketika pilihan menjadi simbol loyalitas, gesekan sulit dihindari. Namun seiring waktu, dinamika mereda dan kesadaran pun tumbuh bahwa setiap kontestasi memiliki batas akhir. Setelahnya, yang dibutuhkan adalah kebersamaan untuk membangun daerah.

Suwardi Haseng yang kini menahkodai Soppeng, sejak awal telah menyerukan bahwa setelah seluruh tahapan pilkada selesai, tidak boleh ada lagi sekat di tengah masyarakat.

Ia mengajak seluruh elemen, tanpa memandang perbedaan pilihan politik, untuk bersama-sama membangun Soppeng.

Bagi masyarakat yang menyaksikan momen keakraban tersebut, pertemuan dua tokoh yang pernah berhadap-hadapan dalam kontestasi politik lalu kini saling berangkulan menjadi pembelajaran berharga.

Abdullah (78) salah seorang masyarakat Soppeng, mengaku salut dan bangga melihat kedewasaan politik yang ditunjukkan kedua tokoh tersebut.

“Saya salut dan bangga. Inilah contoh pemimpin yang dewasa dalam berpolitik. Walaupun pernah bersaing, tapi tetap bisa bersatu demi kepentingan daerah,” ujarnya.

Menurut Abdullah, sikap seperti itu menjadi teladan bagi masyarakat agar tidak terus terjebak dalam perbedaan pilihan politik.

Ia berharap suasana sejuk dan harmonis tersebut terus terjaga demi kemajuan Kabupaten Soppeng.

Kedewasaan politik yang ditunjukkan keduanya menjadi simbol persatuan serta warisan budaya sosial yang patut dijaga di Bumi Latemmamala.  (Daus)