MAKASSAR, UJUNGJARI.COM – Setahun memimpin Kabupaten Barru, Andi Ina Kartika Sari memaparkan sederet capaian pembangunan yang disebutnya mulai menunjukkan tren positif.
Dari pertumbuhan ekonomi, penurunan pengangguran, hingga percepatan infrastruktur, ia menegaskan komitmennya untuk “menjemput bola” demi menghadirkan program pusat ke daerah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia memaparkan, angka pengangguran di Kabupaten Barru saat ini turun dari sekitar 6 persen menjadi 5 persen.
Penurunan angka pengangguran dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya pengesahan sekitar 2.000 tenaga P3K, terbukanya lapangan kerja baru, hingga serapan tenaga kerja dari program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Pembangunan Sekolah Rakyat dengan anggaran Rp270 miliar juga dinilai memicu geliat ekonomi lokal.
Di sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi Barru, pemkab mendorong intensifikasi tanam tiga kali setahun. Dengan luas lahan sawah sekitar 15 ribu hektare, realisasi tanam disebut meningkat signifikan dan berdampak pada kenaikan produksi.
“Kontribusi terbesar PDRB kami masih dari pertanian dan kehutanan. Itu yang kami jadikan jangkar kebijakan,” tegasnya, dalam sesi diskusi yang digelar di Makassar, Selasa (17/2/2026).
Pada sektor infrastruktur, Barru mendapatkan dana Inpres Jalan Daerah (IJD) sebesar Rp50 miliar untuk penanganan ruas jalan rawan longsor, termasuk di wilayah yang sebelumnya sempat terisolasi akibat bencana.
Selain itu, melalui lobi ke pemerintah pusat dan provinsi, Pemkab Barru mengklaim berhasil membawa masuk total anggaran sekitar Rp400 miliar.
“APBD kami hanya sekitar Rp700 miliar. Kalau hanya berharap dari APBD, tidak akan cukup. Maka kami harus aktif berkomunikasi dengan pusat,” jelasnya.
Sepanjang 2025, Pemkab Barru mengaku telah menyelesaikan perbaikan 11 ruas jalan di 15 desa, termasuk jalan yang tak tersentuh selama dua dekade.
Di sektor kelautan, program Kampung Nelayan Merah Putih senilai Rp9 miliar juga tengah dibangun di wilayah pesisir.
Menutup paparannya, Andi Ina menegaskan bahwa menjadi kepala daerah bukan perkara mudah. “Jangan hanya mengandalkan pemilih fanatik. Tanpa jaringan dan kerja nyata, tidak ada artinya,” tegasnya.
Konsultan dan peneliti pembangunan, Asratillah, menilai model kepemimpinan Andi Ina cukup sistematis. Ia melihat adanya framing kuat soal sinkronisasi program daerah dengan pusat, serta konsolidasi internal birokrasi melalui pelantikan lebih dari 150 pejabat.
“Tagline ‘tancap gas pembangunan’ terlihat dari upaya harmonisasi kebijakan dan percepatan implementasi. IPM Barru naik di kisaran 75 poin, dan gini ratio sekitar 0,345, masih kategori menengah bawah,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan tantangan besar tetap ada, seperti persoalan sampah yang mencapai 95 ton per hari dan kebutuhan pembenahan infrastruktur dasar secara merata.
Hal senada disampaikan akademisi pemerintahan Andi Luhur Prianto. Ia menilai konsolidasi elite di era kepemimpinan Andi Ina relatif solid dibanding periode sebelumnya.
“Biasanya klan politik di Barru sulit bersatu. Sekarang relatif lebih harmonis. Tantangannya adalah bagaimana mengeksekusi RPJMD secara konsisten dan meninggalkan legacy yang dikenang,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya mitigasi bencana, mengingat panjangnya ruas jalan dan kerentanan geografis Barru, serta peluang pengembangan sektor pariwisata berbasis potensi pegunungan dan pesisir.
Sementara itu, aktivis perempuan Emma Husain menilai kepemimpinan Andi Ina sebagai simbol penting kebangkitan politik perempuan di Barru. Namun ia mengingatkan, simbol harus diikuti perubahan substantif.
“Ini bukan sekadar simbol kemenangan perempuan, tapi bagaimana kebijakan benar-benar menjawab isu kemiskinan perempuan, perkawinan anak, layanan bagi penyintas kekerasan, dan kelompok rentan,” ujarnya.
Emma mengapresiasi capaian penurunan stunting yang diraih Barru, namun menekankan pentingnya perspektif gender dalam setiap program, termasuk Sekolah Rakyat dan layanan dasar kesehatan.
Kini publik menanti, sejauh mana janji-janji pembangunan itu benar-benar terwujud dan memberi dampak nyata bagi masyarakat Barru—terutama dalam layanan dasar, infrastruktur, dan penguatan ekonomi rakyat. (rhm)

