TAKALAR, UJUNGJARI— Ketua Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Minasa Keadilan Takalar, Muhammad Arsyad DS, SH, menyatakan dukungannya terhadap langkah penyelidikan yang dilakukan Polres Takalar terkait meninggalnya dua bocah di area proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Dusun Bontosunggu, Desa Pa’rappunganta, Kecamatan Polongbangkeng Utara.

“Kami dari LKBH Minasa Keadilan sangat mendukung langkah Polres Takalar yang saat ini sedang melakukan penyelidikan terhadap peristiwa meninggalnya dua bocah di proyek Sekolah Rakyat Takalar,” ujar Arsyad, Sabtu (30/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diketahui, dua korban masing-masing bernama Arzak (4) dan Asril (3) ditemukan meninggal dunia di kawasan proyek pembangunan Sekolah Rakyat pada Rabu malam (27/5/2026). Peristiwa tersebut menyita perhatian publik dan memunculkan desakan agar penyebab kematian kedua korban diungkap secara transparan.

Arsyad berharap penyidik segera melakukan gelar perkara setelah seluruh fakta dan alat bukti terkumpul, sehingga dapat ditentukan langkah hukum selanjutnya sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami percaya penyidik Polres Takalar akan bekerja secara profesional dan objektif dalam mengungkap peristiwa ini. Yang terpenting adalah fakta penyebab kematian kedua korban dapat terungkap secara terang sehingga memberikan kepastian hukum bagi semua pihak,” katanya.

Menurut Arsyad, masyarakat saat ini menaruh harapan besar kepada aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut, termasuk mendalami kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam pelaksanaan proyek.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Takalar, Iptu Harinyanto, membenarkan bahwa pihaknya telah memanggil empat orang saksi guna dimintai keterangan terkait insiden tersebut.

“Benar, saat ini sudah ada empat saksi yang kami panggil untuk dimintai keterangan. Proses penyelidikan masih berjalan untuk mengumpulkan fakta dan mengetahui secara pasti kronologi kejadian,” ujar Harinyanto.

Menurutnya, pemeriksaan saksi dilakukan sebagai bagian dari upaya penyidik untuk mengungkap ada atau tidaknya unsur kelalaian dalam pelaksanaan proyek pembangunan Sekolah Rakyat yang diduga berkaitan dengan meninggalnya kedua korban.

Penyidik juga mendalami aspek pengamanan lokasi proyek dan penerapan standar keselamatan kerja, termasuk keberadaan lubang galian septic tank yang diduga menjadi lokasi ditemukannya kedua korban.

“Kami masih melakukan pendalaman. Semua pihak yang berkaitan dengan proyek akan dimintai keterangan sesuai kebutuhan penyelidikan,” tambahnya.

Kasus ini menjadi perhatian luas setelah dua bocah tersebut ditemukan meninggal dunia di area proyek yang sedang berlangsung. Sejumlah warga menilai lokasi proyek semestinya memiliki sistem pengamanan yang memadai untuk mencegah masyarakat, khususnya anak-anak, memasuki area berbahaya.

Hingga kini, Polres Takalar masih terus mengumpulkan alat bukti dan keterangan saksi guna memastikan apakah terdapat unsur kelalaian yang dapat dimintai pertanggungjawaban hukum dalam peristiwa tersebut.