TAKALAR, UJUNGJARI— Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (FPsi UNM) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMKN 7 Takalar pada 21 April 2026. Kegiatan yang didanai melalui PNBP Fakultas Psikologi UNM tersebut mengangkat tema “Self Awareness: dari Galau menjadi Yakin” dan menyasar siswa kelas XI Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).
Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Hilwa Anwar, S.Psi., M.A., Psikolog sebagai ketua tim, dengan anggota Lukman Najamuddin, S.Psi., M.App.Psy. dan Nurattahirah Anshar, S.Psi., M.Psi. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan dua orang mahasiswa Fakultas Psikologi UNM sebagai bagian dari keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan dibuka oleh Kepala SMKN 7 Takalar dan dihadiri oleh para guru di lingkungan sekolah. Kehadiran pihak sekolah menunjukkan dukungan terhadap kegiatan yang diarahkan untuk membantu siswa memahami dirinya, khususnya dalam menghadapi berbagai pilihan pendidikan, pekerjaan, dan karier setelah menyelesaikan pendidikan di SMK.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa masa remaja merupakan fase ketika mereka mulai berhadapan dengan berbagai keputusan penting mengenai masa depan. Banyaknya pilihan, pengaruh orang tua dan teman sebaya, tren di media sosial, tuntutan prestasi akademik, serta keraguan terhadap kemampuan diri dapat membuat siswa merasa bingung atau “galau” dalam menentukan arah masa depan. Materi kegiatan secara khusus mengajak siswa mengenali bahwa kondisi tersebut dapat menjadi titik awal untuk membangun kesadaran diri.
“Self-awareness penting karena sebelum menentukan ke mana kita akan pergi, kita perlu mengenali siapa diri kita, apa yang kita miliki, apa yang menjadi kekuatan dan hambatan kita, serta apa yang ingin kita kembangkan,” menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan tersebut. Untuk membangun pengalaman belajar yang aktif, tim PKM tidak hanya memberikan materi secara klasikal, tetapi menggunakan sejumlah simulasi dan aktivitas reflektif. Terdapat tiga simulasi utama yang diberikan kepada siswa.
Simulasi pertama adalah “Setuju–Tidak Setuju”. Siswa diberikan sejumlah skenario yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, antara lain ketika pilihan jurusan dipengaruhi orang tua, ketika siswa mengikuti pilihan teman, ketika profesi tertentu menjadi tren di media sosial, ketika prestasi akademik dianggap sebagai satu-satunya penentu masa depan, serta ketika kegagalan membuat seseorang merasa dirinya tidak berbakat. Siswa diminta menentukan sikap secara cepat kemudian mendiskusikan dan merefleksikan alasan di balik pilihannya. Melalui simulasi tersebut, siswa diarahkan untuk menyadari bahwa keputusan mengenai pendidikan dan karier tidak selalu muncul dari keinginan pribadi. Ada berbagai pengaruh eksternal maupun cara pandang terhadap diri yang dapat memengaruhi pilihan seseorang.
Simulasi kedua menggunakan Johari Window, yang diperkenalkan oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham. Dalam aktivitas ini siswa memilih kata-kata yang menurut mereka menggambarkan dirinya, kemudian membandingkannya dengan karakteristik yang dipilih oleh teman. Melalui aktivitas tersebut, siswa belajar mengenali aspek diri yang sudah diketahui, aspek yang belum diketahui oleh orang lain, serta blind spot atau karakteristik yang dapat dilihat orang lain tetapi belum disadari oleh dirinya sendiri. Aktivitas ini memberikan pengalaman bahwa mengenali diri tidak hanya dilakukan melalui introspeksi, tetapi juga melalui kesediaan menerima umpan balik dari orang lain.
Selanjutnya, siswa mengikuti simulasi “Future–Present”. Siswa diminta menggambarkan dirinya saat ini, termasuk hal yang disukai, potensi yang dimiliki, serta hambatan yang masih dihadapi. Setelah itu, siswa diminta membayangkan dirinya sepuluh tahun mendatang dan merumuskan langkah-langkah besar yang perlu dilakukan untuk menjembatani kondisi saat ini dengan masa depan yang diharapkan. Melalui aktivitas tersebut, siswa tidak hanya diajak untuk memiliki gambaran mengenai masa depan, tetapi juga memahami bahwa tujuan masa depan membutuhkan langkah konkret yang dapat mulai dilakukan sejak sekarang.
Dr. Hilwa Anwar menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan dirancang untuk membawa siswa melalui tiga tahapan, yaitu menyadari berbagai pengaruh dalam menentukan pilihan, mengenali diri melalui perspektif diri dan orang lain, serta menentukan arah dan langkah pengembangan diri. “Kita ingin siswa bergerak dari galau menjadi yakin. Yakin bukan berarti sudah mengetahui semua jawaban tentang masa depan, tetapi memiliki pemahaman yang lebih baik tentang dirinya dan berani menentukan langkah untuk berkembang,” jelasnya.
Hasil refleksi selama kegiatan menunjukkan bahwa siswa memperoleh kesempatan untuk mengenali kekuatan dan keterbatasan diri, menyadari adanya blind spot, serta melihat bahwa potensi dan keterbatasan bukan sesuatu yang sepenuhnya permanen. Siswa juga diarahkan untuk memahami pentingnya menerima masukan dari orang lain dan menjadikan pengalaman sebagai bagian dari proses pengembangan diri.
Kegiatan PKM ini juga menjadi bagian dari komitmen Fakultas Psikologi UNM dalam menghadirkan kontribusi keilmuan psikologi secara langsung kepada masyarakat. Selain tim utama yang dipimpin Dr. Hilwa Anwar, kegiatan di SMKN 7 Takalar juga melibatkan tim lain dari Fakultas Psikologi, sehingga kegiatan menjadi bagian dari kolaborasi dan penguatan peran sivitas akademika Fakultas Psikologi dalam memberikan layanan berbasis keilmuan kepada masyarakat.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut sekaligus memberikan pengalaman pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan psikologi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa sebagai kelompok sasaran, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa dan penguatan kontribusi Fakultas Psikologi UNM kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, Fakultas Psikologi UNM berharap penguatan self-awareness dapat membantu siswa SMKN 7 Takalar menghadapi pilihan pendidikan dan karier secara lebih sadar, realistis, dan bertanggung jawab. Pemahaman terhadap diri diharapkan menjadi salah satu fondasi bagi siswa untuk mengembangkan potensi, menghadapi hambatan, serta merancang langkah menuju masa depan yang sesuai dengan dirinya. (*)

