MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Gelaran Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 bukan hanya menjadi panggung diplomasi kuliner, tetapi juga membuka peluang investasi internasional bagi Kota Makassar dan daerah-daerah di Sulawesi Selatan.
Melalui Business Forum IGS 2026 yang berlangsung di Makassar, puluhan pelaku usaha dan delegasi dari berbagai negara dipertemukan dalam forum penjajakan kerja sama yang mempertemukan pemerintah, investor, akademisi, hingga sektor swasta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PM PTSP) Kota Makassar, Mario Said, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan dalam forum bisnis tersebut diawali dengan sesi pembukaan dan talkshow yang menghadirkan pelaku usaha serta perwakilan dunia pendidikan dari Universitas Hasanuddin.
“Talkshow ini mempertemukan unsur investor swasta dan akademisi untuk membahas berbagai peluang kerja sama dan investasi yang dapat dikembangkan ke depan,” ujar Mario, di sela-sela kegiatan Business Forum yang digelar Rabu (24/6/2027) di Hotel The Rinra, Jalan Metro Tanjung Bunga.
Setelah sesi diskusi, agenda dilanjutkan dengan Business Matching dan pertemuan Business to Business (B2B) yang menjadi inti dari forum investasi tersebut.
Selain itu, terdapat pula komunikasi antarpemerintah dan delegasi negara yang hadir dalam rangka menjajaki potensi kerja sama strategis.
Mario mengungkapkan, sebanyak 20 pelaku usaha telah terlibat dalam forum tersebut. Sejumlah delegasi negara juga telah menyatakan minat untuk melakukan komunikasi awal terkait peluang investasi maupun kerja sama bisnis.
“Sudah ada beberapa yang terkonfirmasi untuk melakukan penjajakan. Ini menjadi langkah awal untuk melihat kemungkinan kerja sama yang dapat dilanjutkan pada tahap berikutnya,” katanya.
Dalam forum ini, sektor perikanan dan hasil laut menjadi komoditas unggulan yang paling banyak menarik perhatian. Makassar sebagai kota maritim dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pemasok produk seafood ke pasar internasional.
“Yang paling menonjol tentu sektor perikanan dan seafood. Selain itu ada juga komoditas kopi dan berbagai produk rempah yang mendapatkan perhatian dari negara-negara peserta,” jelas Mario.
Beberapa perusahaan yang bergerak di sektor hasil laut juga ikut terlibat dalam pembahasan bisnis dengan delegasi asing sebagai bagian dari upaya memperluas pasar ekspor.
Selain komoditas unggulan, Pemerintah Kota Makassar juga memanfaatkan momentum Business Forum untuk mempromosikan sejumlah proyek strategis yang berpotensi menarik investasi.
Salah satunya adalah pengembangan kawasan Untia yang diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah utara Makassar. Kawasan tersebut akan didorong berkembang seiring pembangunan stadion baru yang dibiayai melalui APBD.
“Kalau stadion sudah pasti menggunakan APBD dan tidak lagi ditawarkan kepada investor. Tetapi kawasan Untia di sekitarnya yang akan kita dorong untuk dikembangkan melalui keterlibatan pihak swasta,” ungkapnya.
Di sektor pariwisata, Pulau Lae-Lae turut dipresentasikan sebagai destinasi unggulan masa depan Kota Makassar. Pemerintah Kota melalui Bappeda telah menyiapkan kajian pengembangan kawasan tersebut yang dipaparkan kepada para peserta forum sebagai bahan pertimbangan investasi.
“Pulau Lae-Lae menjadi salah satu prioritas pengembangan destinasi wisata ke depan. Kajian pengembangannya juga sudah dipresentasikan dalam forum ini,” kata Mario.
Tak hanya Kota Makassar, sebanyak 23 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan turut hadir dalam Business Forum IGS 2026. Meski sebagian besar kepala daerah berhalangan hadir karena agenda nasional, mereka tetap mengirimkan perwakilan untuk membuka peluang komunikasi dan jejaring bisnis dengan delegasi luar negeri.
Rangkaian Business Forum IGS 2026 juga diramaikan dengan Makassar Investment Potential Export Exhibition yang menampilkan berbagai potensi investasi dan produk unggulan daerah. (rhm)

