GOWA, UJUNGJARI.COM — Perumda Air Minum Tirta Jeneberang Kabupaten Gowa kini intens melakukan penagihan ke pelanggan menunggak. Sudah berjalan sebulan lebih dengan target enam bulan bekerja, tim penagih yang berjumlah 65 orang melakukan optimalisasi dengan tetap humanis kepada pelanggan terkait.

Ada ribuan lebih pelanggan yang menunggak dan tersebar di 12 IKK dan wilayah cakupan kota kabupaten. Pihak Perumda pun menarget penagihan tuntas pada Desember 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah berani ini dilakukan Perumda demi menuntaskan kewajiban para pelanggan dan mengoptimalkan capaian pendapatan perusahaan milik Pemkab Gowa ini.

Puluhan karyawan yang ditugaskan menyasar rumah per rumah pelanggan. Tak kenal panas terik matahari, keringat bercucuran, para tim penagih bergerak praktis dan dinamis.

Hasilnya, dalam kurun sebulan, tim tagih berhasil memasukkan omzet sebesar Rp 1 miliar lebih. Piutang pelanggan tercatat sekira Rp 5 miliar. Dengan masa tunggakan pelanggan ada yang tiga bulan, enam bulan, delapan bulan, 11 bulan bahkan lebih setahun.

“Alhamdulillah kerja keras tim kami berhasil memasukkan omzet piutang sebesar Rp1.013.000.000. Ini capaian luar biasa. Dan saya yakin tim tagih kami bekerja dengan baik terbukti kurun satu bulan saja turun sudah memasukkan satu miliar lebih. Jika pola tagih tetap konsisten yakni humanis dan sopan, saya kira piutang kita sebesar Rp5 miliar itu bisa tuntas pada Desember ini,” kata Plt Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Jeneberang Kabupaten Gowa Irianto Razak.

Saat ditemui di kantornya, Kamis (16/7) siang, Irianto yang juga adalah Direktur Tehnik Perumda ini, mengatakan, kegigihan para tim tagih tersebut disupport dengan reward pimpinan.

Tim tagih yang paling tertinggi hasil pemasukannya jelas direward oleh pimpinan. Menurut Irianto, selain melaksanakan tugas penagihan, tentu banyak hal yang bisa menjadi kendala di lapangan.

Karena itu tim tagih dibekali metode menagih yang sistimatis, humanis, sopan dan beretika. Menghadapi pelanggan bandel tidak mesti dengan sikap keras.

“Tapi dengan pendekatan yang humanis, sopan dan etika menjadi strategi bagus dalam menghadapi pelanggan dengan aneka macam karakter dan sifat. Alhamdulillah tim tagih mampu melakukan dengan baik dan hasilnya fantatis. Dalam satu bulan ini, piutang yang ada di luar sudah kita dapatkan kembali satu miliar lebih dari jumlah piutang kita selama ini mencapai lima miliar lebih. Jika tim kitaa bekerja optimal saya yakin akhir tahun 2026 ini, Desember, kita bisa zero tunggakan. Kita punya waktu penagihan enam bulan hingga akhir tahun. Kalau dalam sebulan kita bisa pasok satu miliar, maka piutang lima miliar itu bisa nol kembali, ” kata Irianto.

Diakuinya selama menggerakkan tim tagih sejak 10 Juni 2026 dan melakukan evaluasi pada 10 Juli kemarin, dirinya sebagai pimpinan sementara Perumda pun melakukan metode terbaik dalam meningkatkan etos kerja karyawan.

“Saat evaluasi kemarin, tim tagih yang capaiannya tertinggi kita reward dengan uang pembinaan secara berjenjang juga. Cara ini memotivasi tim tagih untuk bekerja lebih optimal. Insha allah Desember 2026 nanti kita bisa zero tunggakan, ” papar Ketua FKPPI Kabupaten Gowa ini.

Diakui Irianto, penunggak paling dominan bukan dari sambungan pelaku usaha atau kantor tapi sambungan rumah tangga (SR), khususnya yang pemiliknya berposisi pejabat.

Disebutkan, penunggak terbesar berada di wilayah Kecamatan Pattallassang dan Kecamatan Barombong. Di Pattallassang sendiri tercatat 300 SR penunggak.

“Untuk menuju zero tunggakan kita lakukan tanpa toleransi apalagi yang menunggak 8 bulan. Dalam aturan manajemen saja yang menunggak tiga bulan sudah wajib dicabut/diputus. Tapi kita masih tetap beri kelonggaran tapi itu hanya terbatas pada penunggak yang semisal tiga bulan. Kita beri kelonggaran bayar setengah dulu baru lunasi kemudian. Tapi kalau tunggakannya sudah kelewatan yah kami cabut meteran. Ada juga yang kooperatif begitu meteran mau dicabut langsung bayar. Ada juga meterannya sudah dicabut, dia bayar dulu lalu minta pasang kembali, ” tandas Plt Dirut.

Khusus tim penagih, pihak manajemen tetap melakukan pemantauan dan pengawasan. Yang berprestasi mengumpulkan hasil tagihan diapresiasi dengan reward (penghargaan) namun di lain sisi tindakan punishment (hukuman/sanksi) juga diberlakukan kepada tim penagihan yang bermain.

“Jadi kita kawal tim tagih juga. Pemantauan secara randowm kita lakukan. Seperti saya turun langsung tanpa tim tagih tahu. Nanti di lokasi saya temui mereka. Jadi saya pantau langsung secara dadak, saya backup tim tagih secara tidak langsung. Hal ini kita lakukan guna mengoptimalkan kinerja para penagih di lapangan. Jika semua harapan, target capaian perusahaan bisa kita laksanakan dengan baik, insha allah perusahaan akan sehat dan itu semua kembali ke kesejahteraan karyawan dan daerah tentunya, ” imbuh Irianto. –