PANGKEP, UJUNGJARI.COM — Ternyata ada cara beda namun dinilai efisien untuk memberikan wawasan tambahan kepada masyarakat khususnya murid sekolah dasar.

Cara itu berupa permainan monopoli dan diterapkan oleh para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Program kerja individu bagi mahasiswa ini diberi nama ‘Monopoli Edukasi Kebencanaan’. Pola ini disampaikan di SDN 9 Kalukue dan SDN 22 Kalukue, Desa Tamangapa, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan pada Rabu (29/7).

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan murid sekolah dasar dalam menghadapi berbagai potensi bencana melalui metode pembelajaran yang interaktif serta praktik penyelamatan diri.

Penanggung jawab program kerja Arista Lailitasya Tajul mahasiswa Prodi Geofisika Unhas menjelaskan bahwa edukasi kebencanaan perlu diberikan sejak usia sekolah dasar karena kemampuan mengenali risiko dan mengambil tindakan yang tepat pada saat bencana dapat mengurangi potensi korban.

Dalam banyak kejadian bencana, keselamatan seseorang sangat dipengaruhi oleh kemampuan melakukan tindakan penyelamatan diri yang cepat dan tepat sebelum bantuan datang.

Program tersebut, kata Arista, mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan literasi kebencanaan sejak usia sekolah dasar, serta SDGs poin 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan) dengan membangun budaya masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana.

Dikatakan Arista, pelaksanaan kegiatan diawali dengan pemberian materi mengenai berbagai jenis bencana, pengertian bencana, penyebab, dampak, serta langkah-langkah mitigasi yang dapat dilakukan sejak usia sekolah dasar.

Setelah itu, murid mengikuti Permainan Monopoli Edukasi Kebencanaan, sebuah media pembelajaran yang menggabungkan permainan dengan pertanyaan dan tantangan seputar kebencanaan sehingga materi lebih mudah dipahami oleh anak sekolah dasar dan menyenangkan untuk dipelajari.

Mahasiswa KKN juga mengajak murid sekolah mempraktekkan secara langsung tindakan penyelamatan diri pada beberapa kondisi bencana. Pada simulasi banjir, anak-anak diajarkan untuk mengutamakan keselamatan diri dengan mengamankan dokumen atau barang penting ke tempat yang lebih tinggi dan menjauhi listrik.

Sementara itu, pada simulasi gempa bumi, kebakaran dan angin kencang, murid mempraktekkan langkah-langkah penyelamatan diri sesuai dengan kondisi yang mungkin dihadapi.

Arista menjelaskan bahwa edukasi kebencanaan perlu diberikan sejak usia sekolah dasar karena kemampuan mengenali risiko dan mengambil tindakan yang tepat pada saat bencana dapat mengurangi potensi korban.

“Banyak kejadian bencana, keselamatan seseorang sangat dipengaruhi oleh kemampuan melakukan tindakan penyelamatan diri yang cepat dan tepat sebelum bantuan datang, ” kata Arista yang mendapat apresiasi dari pihak SDN 9 Kalukue dan SDN 22 Kalukue.

Kepala sekolah SDN 22 Kalukue Putra menjelaskan bahwa bencana yang paling sering dialami di wilayah Desa Tamangapa adalah banjir.

“Di wilayah Desa Tamangapa paling sering mengalami bencana banjir. Bahkan, air pernah menggenangi lingkungan sekolah hampir setinggi lutut, sehingga edukasi mengenai kesiapsiagaan banjir dapat dinilai sangat relevan bagi para murid, ” kata Putra.

Menurut Kepsek, pada program kerja Monopoli Edukasi Kebencanaan ini, diharapkan siswa tidak hanya memahami konsep mitigasi bencana secara teori tapi juga memiliki keterampilan dasar untuk mengambil tindakan yang cepat dan tepat ketika menghadapi keadaan darurat.

“Semoga pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta dibagikan kepada keluarga dan lingkungan sekitar sehingga budaya sadar bencana dapat tumbuh di masyarakat Desa Tamangapa,” kata Kepsek. –