MAKASSAR, UJUNGJARI — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa peluang besar bagi transformasi digital, namun di saat yang sama menghadirkan tantangan baru bagi keamanan siber. Kondisi ini menjadi perhatian Fortinet dalam Fortinet Security Summit Indonesia 2026 – Makassar Edition.

Kegiatan yang digelar di Hyatt Place Makassar, Selasa (22/9/2026), tersebut mempertemukan pemimpin bisnis, pengambil keputusan teknologi informasi, pelanggan, mitra, serta profesional keamanan siber untuk membahas strategi memperkuat ketahanan digital di tengah pesatnya perkembangan AI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, mengatakan AI membuka peluang bagi organisasi untuk meningkatkan produktivitas dan menghadirkan layanan digital yang lebih baik. Namun, teknologi tersebut juga membuat lanskap ancaman siber semakin kompleks.

“Organisasi membutuhkan strategi keamanan yang memungkinkan mereka mengadopsi AI dengan percaya diri, sekaligus memperkuat visibilitas dan ketahanan di seluruh lingkungan digital mereka,” ujar Edwin.

Menurutnya, Fortinet Security Summit menjadi ruang bagi pelanggan, mitra, dan pemimpin industri untuk bertukar pengalaman sekaligus mengeksplorasi pendekatan terintegrasi antara jaringan dan keamanan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi, mulai dari konvergensi jaringan dan keamanan, Zero Trust Network Access (ZTNA), Secure Access Service Edge (SASE), keamanan aplikasi, hingga modernisasi operasional keamanan.

Peserta juga mengikuti sesi teknis dan hands-on FortiGate lab untuk memperoleh pengalaman praktis mengenai penguatan keamanan jaringan.

Dari sektor perbankan, Direktur Operasional & Teknologi Informasi PT Bank Sulselbar, Iswadi Ayub, menilai perluasan layanan digital turut memperluas ruang yang harus dilindungi.

“Mulai dari mobile dan internet banking, API, cloud, pihak ketiga, endpoint hingga akses jarak jauh. Bagi Bank Sulselbar, keamanan siber bukan semata mengenai mencegah serangan, tetapi juga memastikan layanan tetap aman, andal, dan dipercaya oleh nasabah,” katanya.

Iswadi menambahkan, Bank Sulselbar terus memperkuat ketahanan siber melalui kemampuan pencegahan, deteksi, respons, dan pemulihan yang terintegrasi.

Sementara itu, Kepala Subbagian Infrastruktur Teknologi Informasi, Lembaga Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial Universitas Hasanuddin, Luqman Hakim, mengatakan keamanan siber perlu ditempatkan sebagai bagian dari fondasi transformasi digital.

“Keamanan perlu dipertimbangkan sejak tahap arsitektur dan desain, dengan mengintegrasikan manusia, proses, dan teknologi,” ujarnya.

Menurut Luqman, pendekatan security-by-architecture dapat membantu organisasi membangun lingkungan digital yang lebih tangguh sekaligus menjaga kepercayaan, keandalan, dan kesinambungan layanan.

Fortinet Security Summit Indonesia 2026 – Makassar Edition juga menekankan pentingnya kolaborasi antara dunia usaha, profesional teknologi, institusi akademik, serta ekosistem keamanan siber.

Melalui rangkaian roadshow tersebut, Fortinet menyatakan komitmennya untuk mendukung organisasi di Indonesia dalam menghadapi perkembangan ancaman siber melalui solusi keamanan, intelijen ancaman, serta pengembangan keterampilan keamanan siber.

Kegiatan di Makassar menjadi bagian dari upaya Fortinet mendorong organisasi agar memiliki fondasi keamanan yang lebih kuat di tengah transformasi digital yang semakin dipengaruhi perkembangan AI. (*)